MENURUT ANDA, BLOG INI ?

Tuesday, 19 July 2011

Muhammad & Kristus 5

Untuk menghilangkan poin utama dalam perkara mu’jizat Yesus, yakni menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan menyembuhkan orang sakit, kiranya tak perlu melibatkan perbuatan-perbuatan ajaib lainnya yang disifatkan kepadanya. Contohnya, seperti membalikkan air menjadi anggur, seperti yang ditulis oleh Yohanes, sebagai mu’jizat pertamanya. Ini jelas sekali rekayasa, karena tidak sepantasnya seorang Nabiyullah menganjurkan minum minuman keras seperti dikatakan oleh Yesus dalam suatu pesta perkawinan Cana. Ingat, jika seorang Nabi datang tujuannya adalah untuk kemaslahatan umat manusia, dan tak seorang pun bisa dikatakan melakukan setiap perbuatan apa saja untuk menolong orang lain dengan jalan mu’jizat atau dengan lainnya agar orang mabukmabukan.Tapi menurut Qur’an, kita diberi ilmu, Yesus memiliki dua mu’jizat besar, yakni memiliki ilmu ghaib, dan kuasa menciptakan kehidupan. Oleh karenanya perlu sedikit dibahas tentang ini.

Sebelum kita menuju Qur’an Suci, mari kita lihat, sejauh mana Injil memberi warna terhadap masalah ini. Pertama mengenai memiliki ilmu ghaib, Injil tidak melengkapi bukti sedikit pun. Tapi di lain pihak kita diberitahu jelas sekali:

“Tapi di hari dan di saat itu tak ada orang yang tahu, tidak juga malaikat yang ada di langit, tidak juga anak manusia, tapi Bapak” (Markus 13:32).

Ilmu gaib di sini jelas sekali tak diakui. Banyak ilmu tentang masa depan diberikan kepada para Nabiyullah, tapi sayang sekali dalam hal Yesus ilmu yang sedikit itu pun tak dibenarkan oleh Injil. Beliau menceritakan tentang kedatangannya yang kedua kali dalam kata-kata berikut ini:

“Sebagaimana cahaya muncul dari sebelah timur, dan bersinar sampai ke barat; begitu pula kedatangan anak manusia. Karena di mana pun ada bangkai, di situ burung-burung pemakan bangkai berkumpul”. (Matius 24:27-28)

Para penafsir Injil sangat berat sekali untuk menjelaskan ini. Contohnya kita diberi tahu bahwa yang dimaksud bangkai itu maknanya dosa manusia sedangkan burung pemakan bangkai ialah Yesus Kristus. Meskipun bentuk singular yang pertama (bangkai) dan plural yang kedua (burung-burung) menunjukkan dalil kesimpulan yang berlawanan; tapi itu dijelaskan, bahwa kedatangan Yesus kepada orang-orang berdosa diibaratkan burung burung kondor yang mengerubuti seekor bangkai, ini sangat membingungkan sekali. Lalu kita pun diberitahu lebih lanjut:

“Tidak lama sesudah kesusahan masa itu, matahari akan menjadi gelap, dan bulan tidak lagi bercahaya, dan bintang-bintang akan jatuh dari langit ….dan sesudah itu tanda anak manusia akan muncul di langit… Sungguh saya katakan kepadamu, generasi ini tak akan beralalu hingga segala sesuatu itu terpenuhi”. (Matius 24:29-34).

Generasi itu karenanya mati tanpa menyaksikan kebenaran ucapan-ucapan tersebut dan ini banyak sekali yang mengikutinya. Janji itu gagal, dan kata-kata Injil selalu menjadi komentar utama kaum Kristen sebagai ilmu gaib Yesus. Memang taklid buta itu tak perlu dalil dan tak perlu pula digoyang oleh argumen, tetapi kritikan para pembaca tak bisa menemui penjelasan kecuali Yesus membuat kesalahan dalam menerangkan ramalan. Saya katakan ini berbeda sekali dengan kenabian Yesus, meskipun para pengikutnya jauh menyimpang dan menyatakan bahwa kesalahan itu karena kebodohan Yesus sendiri. Rev. Dummelow berkata:

“Plumptre mempertimbangkan ‘jawaban itu paling berani sebagai kebenaran dan paling dihormati’, dan mendapatkan penjelasan kebodohan Kristus pada hari dan saat itu (Markus 13:32). Bahkan meskipun kita mengira-ngira, sebagaimana Plumptre, benar-benar tidak mengetahui tanggal itu, kita tidak bisa menyimpulkan, karena jika tidak tahu tanggal, dia tidak akan berusaha untuk memperbaikinya”.

Pernyataan terhadap Injil seperti itu, dia pasti seorang Kristen yang paling berani yang mengumumkan kepada dunia, bahwa Yesus tak mengetahui perkara gaib. Bahkan meskipun Qur’an telah menjelaskan hal itu, rupanya tidak pantas bagi seorang Kristen untuk mendustai kitab sucinya sendiri dan menunjukkan Qur’an, yang dia percayai sebagai Kitab penipu, dalam menopang pernyataannya. Apa yang dia katakan bagi seorang Muslim ialah: Anda harus menerima Yesus sebagai manusia yang lebih dari orang-orang lain sebab Qur’an mengatakan dia mengetahui perkara gaib, dan bila anda menerimanya seperti itu, anda harus percaya kepada Injil sebagai dasarnya, yang pada faktanya dia tidak mengetahui perkara gaib. Logiskah ini meskipun kelihatannya lebih aneh?

Mengenai Qur’an Suci, di mana pun tidak membicarakan Yesus sebagai tidak mengetahui perkara gaib. Terhadap semua itu dikatakan seperti ini:

“Dan Aku beritahukan kepadamu apa yang harus kamu makan dan apa yang harus kamu simpan di rumah kamu” (Quran Suci, 3:48).

Di sini Yesus tidak mengatakan bahwa ia tahu apa yang Yohanes makan di akhir senja dan apa yang ditinggalkan oleh Petrus di rumahnya yang harus kekanak-kanakkan, tapi dia memberitahukan orang-orang apa yang harus mereka makan dan apa yang harus mereka simpan, dan sungguh inilah apa yang Yesus perbuat ketika beliau berkata:

“Janganlah mengunmpulkan harta untuk dirimu sendiri di dunia, karena rayap dan karat dapat merusaknya, dan maling datang mencurinya: Tapi kumpulkanlah harta itu di Sorga, karena di sana tak ada rayap maupun karat yang akan merusaknya dan tidak pula maling mencurinya karena di mana ada hartamu, di situ pula hatimu” (Matius 6:19-21).

Dan lagi:
 

“Janganlah khawatir, katakan, apa yang akan kita makan? atau, Apa yang akan kita minum? atau, Apa yang akan kita pakai? … Oleh karena itu janganlah khawatir tentang hari esok, karena hari esok ada lagi kekhawatirannya sendiri” (Matius 6:31,34).

Bagaimana yang dilakukan oleh umat Kristen terhadap ajaran ini!

Masalah ilmu Yesus tentang perkara gaib diabaikan, kini masih ada yang tersisa yang diduga Yesus menciptakan sesuatu. Di sini ada unsur kebenarannya. Para penulis Injil yang banyak sekali memberikan sesuatu yang berlebihan yang mereka alihkan dari perkara biasa dalam kehidupan beliau kepada sesuatu yang luar biasa, pasti tak meninggalkan yang tak tercatat ini. Di mana pun Qur’an Suci tidak menyebut Yesus sebagai seorang pencipta.Di lain pihak, ia mengingkari setiap kekuatan yang ada pada Yesus atau setiap orang lain atau sesuatu menjadi tuhan. Dikatakan:

“Atau apakah mereka membuat sekutu bagi Allah yang menciptakan makhluk seperti yang diciptakan oleh-Nya, sehingga apa yang diciptakan itu membingungkan mereka? Katakanlah Allah itu yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia itu Esa, Yang Maha-unggul” (Quran Suci,13:16).

Dalil ini benar-benar merobohkan ketuhanan Yesus sampai sama seperti orang lain dan sebagainya, dan teori bahwa ciptaan itu segala sesuatunya diasalkan kepada Yesus oleh Qur’an Suci, sedikit pun tidak berarti menentang ini. Salah pengertian ini terjadi karena dua makna yang berbeda dari kata khalq, pertama berarti, menentukan ukuran, menetukan pertimbangan, atau menentukan pertimbangan maupun ukuran sesuatu, sementara arti lainnya ialah ciptaan. Semua kamus bahasa Arab mengakui ini; untuk mudahnya para pembaca saya tunjukkan kepada Kamus Bahasa Arab-Inggris Lexicon. Kata itu digunakan luas sekali dalam makna pertamanya dalam literatur bahasa Arab, dan Lane mengutip beberapa contoh. Jadi khalaqa-l-adzim maknanya dia mempertimbangkan atau menentukan sesuatu yang tersembunyi; khalaqa-l-na’la artinya dia menentukan ukuran sendal dan sebagainya. Dalam hal inilah para mufassir menafsirkan kata khalq seperti digunakan Yesus dalam Surat 3:48 (dalam hal menciptakan burung dari tanah, -pnj.) dan bahkan Lane pun menerima tafsiran yang sama, karena dia menerjemahkan kata inni akhluqu lakum, “Áku akan menciptakan sesuai ukuran yang tepat bagi kamu”. Para mufassir Qur’an Suci lebih jauh mengatakan bahwa bentuk ukuran itu sebenarnya tidak kembali kepada burung. Lihat tafsirnya Wahab yang dikutip di dalam kitab Ruhul-Ma’ani di situ sangat sederhana sekali sekilas saja dipandang dan sesuatu itu kembali menjadi debu secara mendadak.

Perbuatan membentuk apa pun, jika benar-benar bentuk burung itu dibuat oleh Yesus, maka mu’jizat itu jauh lebih rendah daripada kehebatan mu’jizat Nabi Musa dimana tongkat dirobah menjadi ular. Tapi harus diingat bahwa Yesus Kristus selalu berbicara dalam arti bahasa tamsil atau kalam ibarat dari arti kata yang sebenarnya, dan dalam arti ini beliau sebenarnya tidak pernah membuat bentuk burung, suatu perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Nabi, tapi itu maknanya meniupkan ruhani kepada para pengikutnya agar rohani mereka dapat membumbung tinggi bagaikan burung terbang mengangkasa ke cakrawala.

1 comment:

  1. Muhammad irwansyah2 September 2013 at 20:33

    q ingin bertanya..
    kenapa alquran mengajar kan ilmu memanggil setan dan mengusir nya., bukan kah itu musrik nama nya., tau jngan-jangan yg mengjarkan itu lah setan nya,
    musrik itu kan orang'' yg percya sma setan,
    jangan km bilang km tdak musrik,smntara km mengajarkan nya dan gak mungkin gak me yakini ny...

    kata nya kamu orang muslim, tapi km gak pernah sembhayang jum'at, pa kah km tu msih termasuk agama muslim., smntara di alqur'an tertulis jelas, jika shalat jum'at tdak di lksnakan selama 3kali maka dy bukan orang muslim.
    berartikan baanyak orang-orang muslim yang gak menjdi muslim lagi., tapi dia mengaku agama nya tetap muslim..
    bagai mana dengan itu....

    ReplyDelete

tinggalkan komentar dan nama anda