MENURUT ANDA, BLOG INI ?

Rabu, 24 November 2010

Penemuan Beragam Naskah Kitab Perjanjian Lama di Qumran

Perbedaan pendapat paling mengemuka antara Yahudi dan Kristen abad-abad pertama adalah berkenaan dengan penafsiran isi Kitab Perjanjian Lama khususnya masalah Mesiah (sang Juru Selamat) yang dinantikan. Sementara orang Kristen memahami bahwa yang tertera di dalam Kitab Nabi-Nabi menyangkut Hamba Tuhan, Anak Manusia Emanuel dan Nabi Penerus Musa semuanya itu sejatinya tidak lain adalah Yesus/Isa al-Masih dan pemberitaan tentang kedatangannya. Sedangka orang-orang Yahudi berpendirian bahwa tema-tema diatas adalah dalam konteks pembicaraan tentang bangsa Israel dan keselamatannya, sedangkan Mesiah sang Juru Selamat, masih dalam penantian. Lebih lagi bahwa di sana terdapat beberapa teks kitab suci Perjanjian Lama versi Yunani yang sama sekali berlainan dengan isi Perjanjian Lama versi Ibrani yan berada di tangan orang-orang Yahudi. Manakah antara keduanya yang paling sahih?
Bahkan di sana terdapat kitab-kitab yang secara Utuh termuat dalam Perjanjian Lama versi Yunani namun tidak tertera dalam Kitab Perjanjian Lama versi Ibrani, padahal kitab-kitab tersebut memuat detail penjelasan tentang kedatangan Sang Juru Selamat, apalagi bahwa sosok historis Yesus sama sekali tidak dikenal oleh orang-orang Yahudi. Berbeda dengan apa yang termuat dalam I<itab Perjanjian Baru berkenaan dengan kelahiran Almasih di Betlehem, kehidupannya di Nazaret dan wafatnya di Jerusalem, Maka kitab ini (naskah Qumran, pent-) tidak menyinggung seorangpun yang hidup pada awal abad ke-1 M. -baik Yahudi maupun Romawi-. Sehingga dengan demikian menjadi gamblang bahwa alinea­alinea yang tercantum di dalam tulisan-tulisan Josephus tidak lain hanya sebagai tambahan yang diselipkan oleh para penulis Kristen belakangan.
Dikaitkan dengan persoalan tersebut, maka penemuan manuskrip-manuskrip Qumran yang ditulis pada abad ke-2 SM hingga pertengahan, abad pertama masehi, telah membersitkan harapan akan diketemukannya sumber-sumber pengetahuan yang mampu menjawab teka-teki pelik dan selanjutnya menafsirkan peristiwa berdasarkan pertimbangan­pertimbangan sejarah. Bahkan sebagian kalangan berharap dapat menemukan naskah-naskah kuno dari Injil-Injil Perjanjian Baru di Qumran, atau sekedar isyarat berkenaan dengan para sahabat al-Masih. (para Hawariyun, pent).
Namun yang terjadi sungguh berbeda dengan itu semua. Tidak sedikitpun disinggung bahwa al-Masih pernah hidup pada periode sejarah yang dimaksud kecuali bahwa pada masa itu terdapat sekelompok orang semi-Kristen yang mendiami wilayah Qumran beberapa mil jauhnya dari Jerusalem. Mereka dikatakan sedang menantikan kedatangan Sang Guru yang dikhabarkan telah mati. Orang-orang misterius itu memandang para pendeta rumah suci sebagai penjelmaan setan dan mereka bertanggung jawab atas kematian sang Guru Bijak. Lebih dari itu bahwa kitab-­kitab yang diterima oleh orang-orang Kristen diditolak oleh Yahudi, seluruhnya ditemukan di dalam gua-gua Qumtan.
Perabot (jambangan, pent) dari tembikar dipergunakan sebagai tempat menyimpan manuskrip tenyata mempunyai bentuk yang sangat unik, dan memiliki ukuran tertentu. Berbentuk bundar setinggi kurang lebih setengah meter, dengan permukaan serta dasar yang datar. Perabot semacam ini lazimnya dipergunakan oleh orang-orang Mesir pada dua abad sebelum kelahiran Al-masih. Ini menunjukkan bahwa bentuk perabot dan cara menyimpan manuskrip diambil dari tradisi orang-orang Mesir. Perabot semacam itu jelas bukan buatan tangan orang ­Palestina, demikian pula tata cara penyimpanan manuskrip itu sejatinya merupakan tradisi orang-orang Mesir semenjak masa pemerintahan Ramses III, yang berasal dari dinasti ke duapuluh, sekitar abad ke-2 S.M
Sebagian besar naskah-naskah kuno dari Qumran tertulis di atas lembaran-lembaran kulit dan sebagian di atas lempengan-lempengan tembaga atau daun papirus. Kebanyakan ditulis dalam bahasa Ibrani, meskipun ada pula tulisan berbahasa Aramaik dan Yunani. Cara penulisan yang dipergunakan sama persis dengan hasil penggalian arkeologis di I<hirbat Qumran. Hasil penelitian dengan menggunakan tes karbon 14, menunjukkan bahwa naskah-naskah kuno itu ditulis pada antara abad ke-2 SM dan pertengahan abad ke-1 M. Dipastikan bahwa sejumlah besar manuskrip yang ada memuat materi-materi yang bersumber dari kitab-kitab yang lebih kuno yang kembali pada periode sejarah yang lebih jauh, namun penulisannya diselesaikan pada masa tersebut. Melihat dari materi yang terkandung di dalamnya, manuskrip­manuskrip kuno Qumran terdiri dari tiga jenis tulisan; Tulisan-tulisan Taurat dari Perjanjian Lama, Kitab­kitab yang tidak termasuk dalam Isi Perjanjian Lama dan Tulisan-tulisan Kaum Esenes Qumran.
Jumlah tulisan Kitab-kitab Taurat berjumlah dua ratus kitab, dan telah diketemukan dalam jumlah besar tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Lama -selain Kitab Ester- meskipun sebagian hanya berupa potongan-potongan kecil. Naskah terbanyak dari satu kitab yang dapat diketemukan adalah Kitab Mazmur sebanyak 27 buah naskah, dan Kitab Ulangan sebanyak 25 naskah dan Kitab Yesaya sebanyak 18 naskah.
Sedangkan tulisan-tulisan yang tidak termasuk dalam Kanon Perjanjian Lama terdiri dari dua macam;
Pertama; disebut Apokrip, seperti Kitab Tobit, Kitab Kebijaksanaan Yesus ben Sirakh dan bagian yang tertulis dalam bahasa Yunani dari Surat Yeremia. Kitab jenis pertama ini meskipun tidak menjadi bagian naskah-naskah I<anonik Ibrani yang ditulis oleh kelompok penulis Kitab Suci Yahudi (Masoret), namun tercantum dalam naskah Septuaginta.
Kedua; adalah sebagian Kitab yang ditulis pada periode antara abad ke-2 S M hingga akhir abad ke-1 M. Para Imam menolak menganggapnya sebagai bagian dari Kitab Suci mereka dan selanjutnya dikenal dengan nama "Pseudepiqrapha". Akan tetapi naskah terjemahan dalam bahasa Yunani dari kitab-kitab itu disimpan oleh orang-orang Kristen -kadang tertulis dalam bahasa Suryani, Aramik, atau Etiopia, dalam manuskrip-manuskrip Qumran- sebagaimana pada periode para patriakh ke-12 dan Kitab Akhnokh - yang dapat menjelaskan bahwa kelompok Esenes memasukkannya ke dalam khazanah kitab suci mereka.
Sebagaimana diketemukan pula tulisan-tulisan berupa penafsiran yang menjadi interpretasi bagi kitab-kitab suci dengan metode penafsiran metaforis, atau tidak secara tekstual (harfiah), sebagaimana dilakukan oleh para pendeta. Di antara penemuan lainnya adalah Buku-buku Tafsir Kitab Perjanjian Lama, yang kadangkala bertentangan dengan penafsiran-penafsiran yang diberikan kepada Kitab Talmud. Sebagai contoh, pada Buku Tafsir Kitab Kejadian - bagian pertama Perjanjian Lama - bahwa kisah yang dipaparkan oleh Taurat berkenaan dengan perkawinan Firaun dengan Sarah, kita mendapati penafsirannya bahwa Raja Mesir itulah yang menculik Sarah. Atas perbuatannya itu si Raja Mesir menderita penyakit aneh, sehingga dengan terpaksa menyerahkan Sarah kepada suaminya, Ibrahim : "I<etika Harkanus (seorang Pangeran Mesir) mendengar perkataan Luth (kemenakan Ibrahim), ia pergi menghadap Raj.a dan mengatakan : Semua bencana ini dan penyakit yang diderita oleh Tuan Raja disebabkan oleh Sarah, isteri Ibrahim. Oleh sebab itu, lepaskan Sarah agar kembali kepada suaminya, sehingga dengan begitu bencana ini akan lenyap".
Di samping kitab-kitab agama, di dalam gua­gua Qumran, juga diketemukan tulisan-tulisan yang khusus berkenaan dengan kehidupan orang-orang sekte Esenes, antara lain "Kitab Para Murid", "Manuskrip Damaskus", "Mazmur Pujian" dan manuskrip "Kitab Peperangan". Kendati bahwa Kitab-kitab Taurat yang Lima dinisbatkan kepada Musa - yang hidup pada abad ke-14 SM- dan walaupun Kitab­Kitab Perjanjian Lama telah rampung dari penulisannya pada abad ke-6 dan abad ke-4 S M, namun terjemahan-terjemahan Kitab Taurat yang ada saat ini - termasuk dalam hal ini terjemahan dalam Bahasa Arab- semuanya bersandarkan pada naskah­naskah kanonik Ibrani yang ditulis oleh para penulis Yahudi (Masoret), yang kembali pada zaman sekitar tahun 1008 M.
Bangsa Yahudi, semenjak diijinkan oleh Cyrus, Penguasa Persia untuk mendirikan Rumah Suci dan kembalinya para pendeta dari Babel, pada sekitar abad ke-5 S M, mereka mempergunakan Taurat - Lima Kitab pertama dari Perjanjian Lama, yang berisi ajaran­ajaran Musa dalam peribadatan-, namun di kalangan mereka juga diketahui adanya "kitab-kitab suci" yang lain, seperti halnya kitab yang memaparkan sejarah bangsa Israel sepeninggal Musa. Selain itu ada pula sekumpulan kitab yang dinisbatkan kepada para Nabi yang muncul antara abad ke-10 hingga abad ke-6 SM, serta Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Mazmur.
Sementara orang-orang sekte Esenes memperhatikan seluruh kitab, di mana mereka menafsirkan Taurat Musa berdasarkan pada ajaran para nabi dan syair-syair dalam Mazmur, justru para pendeta rumah suci hanya bersandar pada Lima Kitab Musa. Dan ketika kelompok pendeta rumah suci itu lenyap setelah kehancuran Rumah Suci Jerusalem di tangan Romawi pada tahun 70 M, para pendeta Yahudi sepakat untuk mendirikan Agama Yahudi yang berlandaskan pada ajaran Talmud yang diklaim sebagai penafsiran dari Taurat. Mereka meyakini adanya Taurat Lisan di samping Taurat Tertulis, yang bersumber dari Musa, dan berdasarkan Taurat Lisan itulah mereka menafsirkan Taurat Tertulis.
Ketika lahir Agama I<risten, para penganutnya mengandalkan tulisan-tulisan para Nabi dan Mazmur dalam perdebatan mereka dengan orang-orang Yahudi. Dipihak lain muncul perbedaan pendapat di kalangan Yahudi seputar kitab manakah yang dapat diandalkan.
Pada akhir abad ke-1 M, para pendeta Yahudi mengadakan pertemuan di Yamenia, sebuah kota kecil dekat Yafa, wilayah pinggiran laut Palestina. Dalam pertemuan itu dilakukan revisi atas semua tulisan yang ada pada mereka sehingga diputuskanlah tulisan mana saja yang dapat dikelompokkan ke dalam apa yang kemudian dikenal dengan istilah "Kitab Kanonik", atau dengan ungkapan lain, mana yang layak menjadi bagian dari Kitab Perjanjian Lama, dan selebihnya dibuang. Dengan demikian, maka, naskah-naskah Ibrani yang diketemukan pada akhir abad Ke-10 M, yang selanjutnya menjadi rujukan bagi terjemahan­terjemahan modern, adalah berdasarkan pada Kitab Kanonik ini, yang rampung penyusunannya pada penghujung abad ke-1 M.
Di pihak lain, Raja Ptolomeus II (Pladilepius) - yang membangun Perpustakaan Aleksandria- telah mendatangkan sekelompok penulis kitab suci dari Jerusalem ke Aleksandria pada sekitar abad ke-3 SM. Para penulis itu membawa hasil tulisan masing-masing yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan kemudian dikenal dengan naskah Septuaginta. Oleh karena Gereja Kristen semenjak berdirinya mengandalkan naskah berbahasa Yunani, maka Septuaginta inilah yang dipergunakan oleh seluruh Gereja Kristen hingga abad pertengahan. Namun, semenjak diterjemahkanya Naskah Ibrani ke dalam bahasa Latin dan bahasa-bahasa lainnya, pada abad ke-16, terlihat adanya banyak perselisihan antara naskah Ibrani itu dengan Septuaginta., seperti misalnya, adanya bagian yang kurang atau lebih, adanya perbedaan pada ayat yang sama atau perbedaan berkenaan dengan nama-nama tempat dan catatan sejarah. Ditemukannya kitab-kitab lain dalam kelompok Septuaginta yang tidak terdapat pada Naskah Ibrani orang-orang Masoret, sehingga dengan demikian, ia dianggap sebagai Kitab Agama yang diragukan kebenarannya dan selanjutnya mendapat sebutan Apokripa. Perselisihan terus berlanjut di antara para penelaah Taurat, di mana sebagian dari mereka meyakini keabsahan salah satu naskah dan mengingkari naskah lainnya, dan sebagian lain berusaha memadukan di antara keduanya. Berlatar belakang persoalan yang demikian ini, maka ketika ditemukan naskah-naskah kuno di Qumran, menjelang berakhirnya Perang Dunia II, para peneliti memprediksi bahwa naskah-naskah tersebut nantinya akan menjadi kata pemutus dari perselisihan panjang itu.
Urgensi naskah-naskah kuno yang ditemukan di Qumran, paling tidak terdapat pada masa sejarah penulisan naskah-naskah tersebut yang berasal dari abad ke-2 SM, atau berdekatan dengan masa selesainya terjemahan Septuaginta Yunani, dan sebelum seleksi yang dilakukan oleh para pendeta Yahudi.
Kitab Yesaya yang berasal dari naskah kuno Qumran, disebut sebagai yang pertama kali diselesaikan terjemahannya dan diterbitkan pada tahun 1952. Namun di sana hanya ada sedikit saja perbedaan dengan naskah Ibrani yang ditulis oleh orang-orang Masoret, yang dapat disebut sebagal kesalahan tulis atau kesalahan pada struktur kalimat. Namun persolannya menjadl berbeda, ketika Frank Moore Cross -salah seorang ahli yang berwenang dalam penerjemahan naskah - menerbitkan sebagian darl Kitab Samuel yang berasal dari temuan di gua nomor 4, sebab dalam naskah tersebut ditemukan adanya perbedaan yang sangat substantif dengan naskah Masoret berbahasa Ibrani. Sementara jilka dihadapkan dengan naskah Septuaginta, keduanya sama persis. Namun pada bagian selanjutnya, perbedaan muncul kembali, bukan saja dengan naskah Masoret, tetapi juga dengan naskah Septuaginta. Bagian itu hanya memiliki persesuaian dengan Naskah Sumeria.
Perlu dikemukakan di sini bahwa di sana terdapat sekelompok kecil orang-orang Sumeria yang mendiami wilayah Naples, yang memiliki Kitab Suci Perjanjian Lama yang hanya terdiri dari Lima Kitab Musa saja. Kelompok Sumeria berkeyakinan bahwa asal-usul Kitab Suci yang ada pada mereka berasal dari zaman Nabi Musa. Terdapat perbedaan yang cukup tajam antara naskah Sumeria dengan Naskah Septuaginta dan naskah Masoret, antara lair berkenaan dengan perkiraan masa tinggal bangsa Yahudi di Mesir. Sementara naskah Ibrani menyatakan bahwa keberadaan mereka di Mesir berlangsung selama 430 tahun, sedangkan naskah Sumeria -yang dalam persoalan ini sepakat dengan naskah Septuaginta -bahwa masa tersebut meliputi rentang waktu menetapnya bangsa Israel di bumi Kana'an dan di Mesir, atau dengan ungkapan lain, adalah periode semenjak kedatangan Ibrahim ke kana'an hingga keluarnya Musa ke bukit Sinai.
Penemuan gulungan kecil di gua nomor : 4 di Qumran yang tertulis dalam bahasa Ibrani memuat bagian pertama Kitab Keluaran. Diketahui bahwa naskah tersebut bersesuaian dengan naskah Sumeria pada beberapa tempat, namun berbeda dengan naskah Ibrani.
Ini mengindikasikan bahwa kitab-kitab Sumeria merujuk kepada naskah kuno yang konon telah ada semenjak lahirnya kelompok ini pada abad ke-5 M.
Demikianlah bahwa kita mendapati di antara naskah Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan di sekumpulan gua di Qumran di antaranya ada yang relevan dengan naskah Ibrani, Septuaginta berbahasa Yunani dan naskah Sumeria, selain ditemukan adanya naskah-naskah lain yang berisi kombinasi dari ketiga naskah yang ada. Semua bukti tersebut menunjukkan bahwa di sana -paling tidak- terdapat empat buah tulisan yang berbeda dari satu jenis kitab, yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Hal tersebut mendorong banyak ilmuan Kristen menuntut agar tidak bersandar hanya pada satu Masoret saja, dalam upaya melakukan terjemahan baru. Di samping adanya pertimbangan sehingga diketahui mana di antara naskah yang ada yang paling sahih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan komentar dan nama anda