MENURUT ANDA, BLOG INI ?

Tuesday, 19 July 2011

Muhammad & Kristus 4

Meskipun mu’jizat penyembuhan Yesus tidak menempati kedudukan yang tertinggi di dalam catatan berbagai mu’jizat, tidak pula di antara perbuatan utama dan menakjubkan yang mungkin dilakukan, namun mungkin itulah kisah yang paling asli dalam ucapan tamsil atau kiasan. Di sini pun Elisa dan Eliya sama memiliki nilai seperti Yesus. Elisha menyembuhkan lepra si Naaman (2 Raja-raja 5:1-14), dan mengembalikan penglihatan banyak orang yang dahulu buta secara menakjubkan:

“Dan ketika mereka datang untuk menyerang, Elisa berdo’a, Tuhan, butakanlah kiranya orang-orang ini. Tuhan mengabulkan do’a Elisa, dan mereka semuanya menjadi buta… Pada waktu mereka memasuki kota Samaria, Elisa berkata, Tuhan, bukalah mata orang-orang ini agar mereka bisa melihat. Dan Tuhan membuka mata mereka, kemudian mereka melihat” (2 Raja-raja 6:17-20).

Beberapa pekerjaan yang luar biasa yang dilakukan para nabi seperti tertera di dalam Perjanjian Lama, lihatlah 2 Raja-raja 4:1-7, 14-17, 40, 44,; 2:8, 14, 19-22; 6:5-6; Joshua 3:17; Ezekil 37:10 dll.

Jika mu’jizat luar biasa yang dapat menyembuhkan orang sakit terbatas pada para nabi, sebagaimana dikisahkan dalam Perjanjian Lama, niscaya mereka telah memegang teguh paling tidak lingkaran cahaya suci kemuliaan mereka. Tapi ketika kita menjumpai periode Perjanjian Baru, mu’jizat penyembuhan itu menjadi perkara biasa saja. Ketika dicemoohkan oleh kaum Parisi sewaktu mengusir setan atau roh jahat dengan pertolongan Beelzebul, Yesus menjawab, “Jika aku mengusir roh jahat dengan kuasa Beelzebul, oleh siapa anak-anak kamu mengusir roh jahat itu” (Matius 12:27; Lukas 11:19). Di sini jelas sekali bahwa itu diakukan ke mulut Yesus bahkan para murid kaum Parisi yang melawan Yesus Kristus pun dapat melakukan mu’jizat penyembuhan, atau dapat mengusir roh jahat, sebagaimana ditulis di dalam Injil tersebut. Lagi-lagi kita diberitahu bahwa seseorang yang tidak mengikuti Yesus bisa melakukan mu’jizat yang sama seperti pekerjaan Yesus sehari hari.

“Guru, kami melihat seseorang mengusir roh jahat atas namamu, dan dia bukan pengikut kita … Tapi Yesus berkata, Jangan melarang dia, karena tak akan ada orang yang bisa melakukan mu’jizat atas namaku yang bisa menjelek-jelekkan aku” (Markus 9:38,39).

Dan begitu pula mereka yang ditolak Yesus di pengadilan tinggi dapat melakukan mu’jizat:

“Banyak sekali yang akan berkata kepadaku pada hari itu, Tuhanku, Tuhanku, bisakah kami meramal atas namamu? Dan atas namamu pula mengusir roh jahat? Dan dengan atas namamu pula melakukan keajaiban?

Nah, bahkan nabi palsu pun dapat menunjukkan keajaiban: “Akan muncul Kristus palsu, dan nabi palsu, dan akan menunjukkan keajaiban dan mu’jizat luar biasa” Matius 24:24).

Yang paling aneh dari semua cerita tersebut adalah penyembuhan kolam yang terdapat pada Injil Yohanes:

“Kini di Yerusalem dekat pasar domba ada satu kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda, mempunyai lima pintu masuk. Di sana tergeletak banyak orang sakit, ada yang buta, ada yang timpang dan ada pula yang lumpuh, mereka menunggu bergeraknya air kolam. Karena malaikat adakalanya turun ke kolam itu, kemudian menggoncangkan airnya, maka barangsiapa yang pertama kali masuk ke dalam kolam selagi air berguncang, ia akan sembuh dari penyakit apa saja”. (Yohanes 5:2-4).

Versi yang direvisi menghilangkan bagian belakang karena dianggap sebagai interpolasi atau sisipan kemudian kesulitan arti penyembuhan kolam itu pun menjadi memiliki kekuatan yang sama seperti “anak Tuhan” tidak dapat dihindari.

Anekdot kecil ini dicatat oleh Injil menjadi kekuatan argumen mu’jizat yang menyeluruh. Setiap orang Kristen yang telah membaca seluruh Injil tidak berani membicarakan mu’jizat ini sebagai bukti kebenaran Kristus sebagai seorang Nabi, untuk tidak mengatakan ketuhanannya. Tapi apa yang lebih buruk lagi, pernyataan Injil itu menunjukkan keajaiban yang luar biasa, dan seorang penginjil mencoba memperkaya cerita yang masih kurang lengkap itu dengan cerita lainnya. Di sini saya tidak akan mengemukakan lebih detail lagi, namun akan mengantar para pembaca kepada satu kesimpulan yang disampaikan oleh seorang pengeritik Kristen di dalam Encyclopaedia Biblica:

Kesimpulan itu tak dapat dihindari, bahkan seorang penginjil pun yang menceritakan perkara tertentu banyak melibatkan perkara supernatural lebih dari lain-lainnya, ia masih jauh dari judul yang ada di situ untuk mengakui secara mutlak kisahnya. Dalam tingkat yang sama bagi yang datang belakangan, melakukannya juga tanpa sepengetahuan yang datang terlebih dahulu.

Dan lagi:

Tidak begitu sulit untuk dimengerti bagaimana para penulis ceritaYesus, setelah melihat perbuatan ajaib atau setelah itu dilakukan olehnya yang mereka anggap sebagai mu’jizat, menguatkannya dengan setiap jenis kekuatan mu’jizat lainnya tanpa dibedakan, sebagaimana pikiran modern mengira, antara mu’jizat yang mempengaruhi lahiriah dan yang bukan. Ini pun perlu diperhatikan bahwa penyembuhan tersebut hanyalah bersifat temporal saja. (Art. Injil).

Lebih-lebih terhadap pengaruh berlebihan dari kisah yang mengherankan, yang salah menerapkan antara jasmani dan rohani, sebagaimana telah saya tunjukkan dalam membicarakan mu’jizat yang behubungan dengan menghidupkan orang yang sudah mati di atas. Ini jelas sekali ditunjukkan oleh cerita kisah yang disampaikan kepada Yohanes Pembaptis: “Orang buta menerima cahaya, dan yang lumpuh berjalan, yang lepra disembuhkan, dan orang tuli mendengar, dan orang mati dihidupkan, dan yang miskin diberi Injil yang diajarkan kepada mereka”. Dan ketika para murid Yesus gagal mengusir setan atau roh jahat, Yesus memberitahukan: “Ini tidak akan bisa terjadi kecuali dengan berdo’a dan berpuasa” (Matius 17:21). Dengan jalan berdo’a dan berpuasalah kekuatan itu bisa mengusir setan dari manusia, dan ini jelas sekali setanlah yang mempengaruhi jiwa manusia dan bukan fisik manusia.

Pandangan yang dikemukakan oleh Qur’an Suci jelas sekali tanpa mengundang keraguan. Dalam tiga kejadian yang berbeda, Qur’an Suci membicarakan penyembuhan: yakni dalam Surat 10:57; 17:82 dan 41:44. Sebenarnya penyembuhan ini adalah salah satu nama yang dikenalkan Kitab Suci. Pengungkapan nama ini adalah penting artinya. Qur’an menunjukkan bahwa penyembuhan efektif yang dilakukan oleh para Nabiyullah itu sifatnya berbeda sekali dengan menyingkirkan penyakit jasmaniah. Lagi dan lagi bahwa yang tuli dan bisu serta buta berkali-kali disebutkan di dalam Qur’an; tapi itu bukan gerombolan orang seperti yang diceritakan ramai-ramai mengikuti Yesus yaitu: “Dan serombongan besar mengikutinya dan semuanya disembuhkan” (Matius 12:15), ya bukan itu!. Qur’an sendiri menjelaskan apa yang dimaksud orang-orang buta, tuli dan sebagainya:

“Mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka tak mengerti, dan mereka punya mata yang dengan itu mereka tak melihat, dan mereka punya telinga yang dengan itu mereka tak mendengar” (7:179).

“Sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi buta hatinya yang ada di dalam dada” (22:46).

Pernyataan yang sama seperti itu banyak sekali disebutkan di dalam Qur’an Suci, namun demi singkat dan jelas, kiranya cukup apa yang telah dikutip di atas saja. Saya tak perlu memberikan contoh banyak-banyak. Apa yang ditinggalkan secara gelap oleh Injil dibuat jelas oleh Qur’an Suci dan dalam perkara inilah Kitab Suci ini berbicara mengenai penyembuhan yang efektif oleh para Nabiyullah, yang salah seorang di antara mereka itu adalah Yesus sendiri.

Muhammad & Kristus 3

Dikatakan, perbuatan luar biasa Yesus adalah membangunkan orang mati menjadi  hidup, dan dalam hal ini kita diberitahu bahwa bukti Keilahian Kristus itu bisa dijumpai  seperti di bawah ini. Inilah argumennya:

“Kristus menghidupkan orang yang sudah mati diakui oleh kaum Muslimin  berdasarkan Qur’an Suci, dan menghidupkan orang mati itu di belakang kekuasaan  manusia dan hanya bersifat Ilahi … Dan di dalam sifat Keilahian inilah tiada orang  lain yang bisa mengerjakannya kecuali Yesus sendiri”.

Apa yang dikatakan Qur’an akan kami bicarakan belakangan. Pertama-tama mari kita ketahui dulu pertimbangan yang diakui sebagai dasar dari ajaran kitab suci Kristen. Dalil itu mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi Ilahi sebab dia bisa menghidupkan orang mati. Dalil ini hanya bisa dikemukakan oleh orang yang percaya bahwa tidak ada orang lain yang bisa menghidupkan orang mati. Tapi Bebel sendiri mementahkan pengakuan ini. Bebel berisi beberapa contoh orang lain yang juga bisa menghidupkan orang mati, dan karenanya jika Yesus benar-benar melakukan mu’jizat seperti itu, berarti keilahiannya atau ketuhanannya dengan bisa menghidupkan orang mati, ini benar-benar menjadi tak logis, sebab dalam hal ini Elisa pun lebih hebat lagi ketuhanannya. Di dalam Raja-raja 2:4 kita diberitahu bahwa seorang anak telah mati dan kematiannya itu sungguh benar ketika Elisa datang:

“Dan ketika Elisa datang ke rumah itu, ternyata si anak itu telah mati, dan tergeletak  di atas pembaringannya. Kemudian dia masuk, dan menutup pintu dua kali, dan dia  berdo’a kepada Tuhan, dan tiba-tiba si anak itu mendengkur tujuh kali, dan si anak  itu membuka matanya” (2 Raja-raja 4:32-35).

Elia juga bisa menghidupkan orang mati:

“Dan dia berteriak kepada Tuhan, dan berkata, Wahai Tuhan, Tuhanku, apakah  engkau menimpakan kemalangan kepada janda ini yang menerima aku sebagai  penumpang dengan membunuh anaknya? … Aku bermohon kepadamu,  kembalikanlah nyawa anak ini kepadanya. Dan Tuhan mendengar suara Elia, dan  nyawa si anak itu pun kembali kepadanya dan kemudian si anak itu hidup kembali”  (1 Raja-raja 17:19-20).

Jadi Bibel tidak memberikan hak keilahian istimewa kepada pengakuan Yesus dalam  bobot menghidupkan orang yang sudah mati. Sungguh, di satu sisi kekuasaan Elisa lebih  hebat dalam menghidupkan orang mati daripada Yesus, karena tulang yang sudah kering  pun, setelah orang itu mati, jauh lebih manjur bisa dihidupkan kembali:

“Pada suatu ketika orang sedang menguburkan mayat. Ketika mereka melihat  gerombolan datang, dicampakkan merekalah mayat itu ke dalam kubur Elisa, ketika  orang itu menyentuh tulang Elisa, maka si mayat itu hidup kembali lalu berdiri dan  kemudian pergi”. (2 Raja-raja 13:21).

Seringkali dikatakan bahwa Yesus melakukan mu’jizat dengan kekuatannya sendiri, sementara perkara pada Nabi-nabi lainnya, Tuhanlah Yang melakukan mu’jizat itu dengan perantaraan mereka. Perbedaan yang fantastik ini tidak menambah nilai apa-apa, karena  perihal Yesus sendiri pun Tuhan sajalah Yang melakukan mu’jizat tersebut. 

“Hai orang-orang Israel, dengarlah kata-kata ini; Yesus dari Nazaret adalah seorang  yang dikuatkan Tuhan di antara kamu dengan mu’jizat-mu’jizat dan keajaibankeajaiban  dan tanda-tanda, dimana Tuhan sendirilah yang melakukan itu melalui  dirinya di tengah-tengah kamu” (Perbuatan 2:22).

Ini sangat mungkin bahwa kisah Elia maupun Elisa menghidupkan orang yang sudah mati dihasilkan oleh keinginan pikiran orang-orang saleh dari para pengikut Yesus permulaan untuk menerapkan perbuatan yang sama terhadap Guru mereka. Di sini ada jejak yang jelas di dalam alur cerita mereka. Matius, Markus dan Lukas menceritakan tentang menghidupkan anak perempuan seorang pemimpin dimana Matius mengutip ucapan Yesus yang mengatakan: “Anak perempuan itu tidaklah mati tapi cuma tidur saja” (Matius 9:24). Lainlainnya tidak mencantumkan kata-kata itu, namun kehadiran mereka di Matius cukup membuktikan sifat alami mu’jizat tersebut. Cukup menarik hati bahwa Yohanes tidak membicarakan sama sekali mu’jizat seperti ini namun menyebutkan bahwa mu’jizat itu tidak dikenal dalam Injil Synoptist (Matius, Markus dan Lukas) yaitu menghidupkan Lazarus setelah dia terbaring di kuburan selama empat hari (Yohanes 11:38-44). Mengapa bisa terjadi bahwa Injil Synoptist, salah satu atau semuanya, tidak mengetahui mu’jizat luar biasa itu, dan kenapa Yohanes tidak mengetahui adanya anak perempuan seorang pemimpin yang dihidupkan itu? Kesimpulannya jelas bahwa Yohanes, menulis belakangan, dia meragukan tentang menghidupkan seorang anak perempuan pemimpin tersebut, kemudian dia sungguhsungguh membuat satu cerita simbolik seperti yang terbaca seperti tadi. Terhadap dua mu’jizat itu, Lukas sendiri menyebutkan mu’jizat yang ketiga, yaitu menghidupkan anak  laki-laki seorang janda di Nain (Lukas 7:11-17), yang ini tidak dikenal baik oleh Injil  Synoptist lainnya maupun oleh Yohanes.

Dengan demikian di sini kita dapat menunjuk pada kemustahilan yang luar biasa yang ditulis oleh para penulis Injil permulaan yang gemar sekali terhadap cerita yang anehaneh. Bagi Matius tidak cukup hanya satu kisah mu’jizat membangunkan anak perempuan yang sedang tidur, tapi dia tambahkan dengan membangkitkan orang mati yang sudah empat hari lamanya terkubur di tanah yang kemudian orang itu berjalan menuju Yerusalem segera setelah Yesus menghentikan hantu kuburan:

“Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah  gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak  orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka  pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada  banyak orang” (Matius 27:51-53).

Mu’jizat yang aneh ini melampaui segala imajinasi, hanya para penginjil saja yang tidak memberikan keterangan secara detail mengapa tengkorak dan tulang-belulang itu bisa berjalan menuju kota; sebagaimana halnya perkara Lazarus, rupanya si penulis itu cukup berhati-hati untuk menambah-nambah cerita bahwa ada orang yang mati muncul dengan tangan dan kaki terikat oleh kain kafan, dan mukanya terbungkus oleh secarik kain dan agar ia terlepas dari ikatan itu ia menuju kepada Yesus Kristus. Mungkin kain kafan yang membungkus mayat orang suci itu sudah terjadi berabad-abad lamanya atau paling tidak sudah bertahun-tahun lamanya, disajikan secara utuh untuk menambah semaraknya penampilan mu’jizat tersebut. Tidak semua komentator Injil berani membaca kisah mu’jizat aneh ini secara harfiah, oleh karena itu kita punya komentar yang dikemukakan oleh Rev. J.R. Dummelow:

“Kejadian itu rupanya menggambarkan demi menyesuaikan kebenaran bahwa  Kebangkitan Kristus melibatkan kebangkitan semua orang-orang suci, maka di Hari  Paskah itu semua umat Kristen bisa dikatakan harus mempunyai perasaan begitu  rupa yakni merasa bangkit bersama dia”.

Dari sini kita bisa menemui letak kebenaran tentang semua mu’jizat menghidupkan  orang yang sudah mati tersebut. Yesus mengatakan itu sebagai tamsil atau bahasa kiasan,  dan bahasa kiasan itu selalu digunakan oleh beliau secara bebas:

“Biarlah orang yang mati itu menguburkan orang yang mati pula, kata beliau”  (Matius 8:22). Dan lagi:

“Sungguh, sungguh, aku katakan kepadamu, Dia yang mendengar ucapanku dan  beriman kepada-Nya yang telah mengutusku, akan hidup abadi, dan tidak akan  dihukum, tetapi hidup setelah melalui kematian. Sungguh, sungguh, aku katakan  kepadamu, Saatnya akan datang, dan sekarang, tatkala yang mati akan mendengar  suara anak Tuhan: dan mereka yang mendengar akan hidup … Jangan heran terhadap  ini, karena saatnya akan tiba dan semua yang ada di kubur akan mendengar suara- Nya dan akan hidup”. (Yohanes 5:24, 25, 28).

Kini dari semua persoalan tersebut, dengan kematian, bahkan mereka yang ada di  alam kubur, artinya adalah kematian rohani, mereka yang mati, artinya dalam keadaan  berdosa, dan dengan hidup, itu artinya kehidupan rohani. Bahasa kiasan semacam itu  digunakan juga oleh kaumYahudi. Menurut adat-istiadat Yahudi, “orang jahat, meskipun  hidup, disebut mati”. Yesus Kristus mengirim kabar kepada Yohanes Pembaptis:

“Pergilah dan sampaikanlah kepada Yohanes segala sesuatu yang engkau dengar dan  lihatlah: Orang buta bisa melihat, orang lumpuh bisa berjalan, orang lepra bisa  disembuhkan, orang tuli bisa mendengar, orang mati bisa hidup, dan orang miskin  diberikan kabar baik yang diajarkan kepada mereka” (Matius 11:4-5).

Kesimpulan kata-kata tersebut jelas sekali apa yang dimaksud Yesus, beliau tidak saja mengajarkan Injil kepada orang-orang miskin. Beliau berbicara secara tamsil, namun ucapan beliau disalah mengertikan, ini perlu direnungkan terhadap kisah menghidupkan orang yang sudah mati tersebut. Seluruh kekeliruan itu terletak pada ucapan Yesus yang terlalu begitu bebas menggunakan kata-kata kiasan, maka bukan hanya orang-orang Yahudi saja yang  diberi tahu bahwa mereka tidak mengerti bahasa tamsil, bahkan para muridnya pun sering  sekali menyalah-artikannya, bahasa tamsilnya diartikan secara harfiah (Yohanes 8:43). Kejadian berikut ini perlu diperhatikan:

“Sekarang para murid Yesus lupa mengambil roti … Dan beliau memperingati  mereka, katanya: Berhati-hatilah, awaslah terhadap ragi orang Parisi dan ragi  Herodes. Dan mereka berpikir di antara mereka sendiri, katanya. Karena kita tak  punya roti. Ketika Yesus mengetahui itu, beliau berkata kepada mereka. Mengapa  kamu membicarakan sebab tidak punya roti? Belumkah kamu mengerti, ataukah  kamu tidak faham? Apakah kamu punya hati yang keras? Tidakkah matamu  melihat?” (Markus 8:14-17).

Sungguh kita dapati bahwa murid-murid Yesus pun mengeluh terhadap bahasa tamsil beliau dan menyatakan tidak bisa mengikuti maksud beliau. Di sinilah terletak solusi tentang kisah menghidupkan orang yang mati tadi.

Berikut ini kita jelang apa yang dikemukakan oleh Qur’an Suci mengenai menghidupkan orang yang sudah mati. Untuk mengatakan bahwa Qur’an Suci membicarakan Yesus, khususnya dalam menghidupkan orang yang telah mati  menyingkapkan secara halus kekurang tahuan isinya. Ia jelas sekali membicarakan  mengenai Nabi Suci menghidupkan orang yang mati. Lebih lanjut Qur’an berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan Utusan-Nya tatkala  ia mengajak kamu kepada yang memberi hidup kamu” (Qur’an Suci. 8:24).

Kesalahan tersebut muncul dari perbedaan pribadi-pribadi yang dijadikan di antara para Nabiyullah itu, maka ketika Qur’an menyatakan Nabi Suci menghidupkan orang yang sudah mati, artinya adalah menghidupkan rohani yang sudah mati bagi mereka yang mati dalam kebodohan, tetapi ketika membicarakan Yesus menghidupkan orang yang telah mati, kata-kata itu diartikan secara harfiah, yakni menghidupkan kembali orang yang telah mati secara fisik. Mengapa kedua ucapan itu tidak sama di kedua tempat itu? Tentang arti yang sebenarnya Qur’an menjelaskannya sendiri. Ia membicarakan tentang kematian itu berkalikali dengan arti mati rohaninya. Ia membicarakan mereka dihidupkan kembali artinya  dihidupkan kembali rohaninya. Saya akan berikan beberapa contoh terhadap masalah ini,  dimana hal ini banyak sekali disalah mengertikan. Di salah satu Surat dikatakan:

“Apakah orang yang telah mati, Lalu Kami hidupkan lagi, dan kepadanya Kami beri  cahaya yang dengan itu dia berjalan di antara manusia, sama dengan orang yang  perumpamaannya seperti orang yang berada dalam kegelapan yang ia tak dapat  keluar dari sana? (Qur’an Suci, 6:123).

Di ayat ini bisa kita baca bagaimana orang mati dihidupkan dalam kata-kata yang jelas, dengan penjelasan ayat ini bukan jiwa manusia yang melayang, lalu dikembalikan ke badan wadag kasarnya, tapi yang dimaksud adalah hidup dan matinya rohani. Di tempat lain bisa kita baca:

“Sesungguhnya engkau tak dapat membuat orang yang mati mendengar panggilan,  dan engkau tak dapat pula membuat mendengar orang yang tuli jika mereka berbalik  punggung” (Qur’an Suci, 27:80).

Markus mengkombinasikan antara mati dan tuli. Dua-duanya dikatagorikan sama. Nabi tidak bisa membuat mereka mendengar jika mereka tak siap untuk mendengarkan lalu mereka berbalik pergi entah ke mana. Dalam kaitan yang sama dinyatakan pula di tempat  lain:

“Tak sama orang hidup dan orang mati. Sesungguhnya Allah membuat mendengar  siapa yang Ia kehendaki, dan engkau tak dapat membuat mendengar orang yang ada  dalam kubur” (Qur’an Suci, 35:22).

Di sini bukan saja orang yang mati, tapi juga orang yang ada di dalam kubur. Di dalam kubur di sini bukan berarti badan wadag yang terbujur di liang lahat. Tidak pula kata-kata itu berarti bahwa Nabi bisa menghidupkan orang-orang yang rohaninya ada di dalam kubur.   Yang dimaksud itu adalah bahwa Nabi hanyalah manusia biasa tidak bisa melakukan  sesuatu yang tidak mungkin; menghidupkan mereka yang ada di dalam kubur maknanya  adalah tangan Allah bekerja melalui Nabi yang bisa membawa perubahan besar.

Dari sini jelas sekali bagaimana Qur’an Suci membicarakan para Nabiyullah yang menghidupkan orang-orang mati, yakni rohani yang mati dan rohani yang hidup, dan dalam hal inilah Qur’an membicarakan Nabi Suci Muhammad dan Yesus Kristus (Nabi ‘Isa) menghidupkan orang mati. Akan lebih jelas lagi bila direnungkan bahwa menurut Qur’an Suci yang mati benar-benar akan dihidupkan di hari Pengadilan dan kembali kepada kehidupan di sini tidak diperbolehkan sebelum Hari Penngadilan kelak, ini dijelaskan dalam kata-kata yang terang:

“Allah mengambil nyawa pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu  tidurnya. Lalu Ia menahan nyawa yang Ia putuskan mati, dan mengirim kembali  yang lain sampai waktu yang ditentukan” (Qur’an Suci, 39:42).

Ayat ini menyimpulkan dengan tuntasnya bahwa Qur’an tidak mengakui hidupnya kembali mereka yang benar-benar telah mati secara jasmani. Suatu ketika fase kematian akan dilalui, nyawa itu dicegah dan dalam keadaan apa pun tak akan kembali lagi. Prinsip seperti itu  dikuatkan oleh ayat berikut ini:

“Sampai tatkala kematian mendatangi salah seorang di antara mereka, ia berkata: Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku dapat berbuat kebaikan dari perkara yang aku  lalaikan. Tak mungkin! Sesungguhnya itu kata-kata yang ia ucapkan, Dan di hadapan  mereka ada tabir, sampai hari mereka dibangkitkan” (Qur’an Suci, 23:99-100). 

Jadi kita diberitahu dengan kata-kata yang jelas bahwa tak seorang pun yang telah  melewati pintu kematian di alam barzakh diizinkan kembali kepada kehidupan yang telah  lalu. Ayat ketiga ini bisa dibaca lagi:

“Haram bagi suatu kota yang telah Kami binasakan dan mereka tak akan kembali”  (Qur’an Suci, 21:95).

Beberapa kata komentar bisa ditambahkan terhadap ayat yang terakhir ini yang sumbernya dari Hadits Nabi Suci saw. Kejadian berikut ini diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah, dua orang perawi Hadits sahih. Ayah Jabir, yakni Abdullah telah terbunuh di medan tempur oleh musuh Islam. Suatu hari Nabi Suci melihat Jabir berduka cita. “Apa yang membuatmu bersedih hati”? Tanya seorang Guru yang turut berduka cita terhadap sahabatnya yang dirundung duka itu. “Ayahku telah gugur dan di belakangnya meninggalkan keluarga besar serta hutang yang menggunung”. Jawaban Jabir. “Bolehkah aku berikan kabar gembira tentang karunia agung bahwa ayahmu telah ditemui Allah”, demikian sabda Nabi Suci … “Tuhan berfirman, Wahai hamba-Ku, ungkapkanlah suatu kehendak dan Aku akan mengganjarmu. Dia berkata, Tuhanku! Berilah aku hidup maka aku bisa berjuang di jalan-Mu, Allah Ta’ala berfirman, mereka tak bisa kembali. Keinginan Abdullah hidup kembali dan bertempur melawan musuh Islam hanyalah satu batasan di jalan-Nya – “tapi mereka tak bisa kembali - kata-kata ini benar-benar menyimpulkan bunyi ayat yang baru saja saya kutip. Bukti yang sama seperti komentar Nabi Suci terhadap ayat ini bisa dijumpai di dalam Hadits Sahih Muslim, dimana para syuhada pada umumnya dikatakan sama seperti itu. “Apa yang lebih diinginkan?” mereka ditanya oleh Allah Ta’ala. Pertanyaan itu diulang dan mereka berkata: “Tuhan kami, kami menginginkan agar kami dihidupkan kembali dan kembali ke dunia agar kami bisa bertempur kembali di jalan-Mu”. Dan apakah jawaban terhadap kehendak yang suci ini pada waktu seseorang ikut bertempur dalam barisan Islam mencari keridlaan Ilahi? “Telah Aku tuliskan bahwa mereka tak akan bisa kembali”. Di dunia ini tak ada seorang pun yang dapat membalikkan firman Qur’an Suci ini bahwa mereka yang sekali mati tak akan hidup kembali di dunia ini; dan kehidupan
itu akan kembali, kelak nanti pada Hari Kiamat.

Muhammad & Kristus 2

 

Kitab Injil penuh dengan kisah mu’jizat yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan di  dalam Injil tersebut, tidak di lainnya, disangka terletak dalil Keilahiannya. Bahkan  sebenarnya inti ajaran agama Kristen itu adalah mu’jizat; jika Yesus tidak bangkit dari  antara yang mati, maka kepercayaan dan ajaran Kristen niscaya akan sia-sia belaka. Kewajiban agama, ajaran yang normal dan kebangkitan rohani tidak terdapat kecuali mu’jizat dan mu’jizat saja yang terdapat pada Injil tersebut. Orang mati dibangkitkan dari kubur, banyak orang sakit disembuhkan, air dirobah jadi anggur, roh jahat dilenyapkan, dan banyak sekali perbuatan yang aneh-aneh dilakukan. Demi berdalih, maka catatan di berbagai Injil tersebut secara harfiah dikira benar; tapi apa pengaruh dari semua itu terhadap kehidupan orang-orang yang pernah menyaksikan segala mu’jizat aneh tersebut? Mu’jizat dalam kehidupan seorang Nabi harus bisa meyakinkan orang terhadap hakikat risalahnya dan harus meyakinkan pula pikiran orang biasa bahwa dengan memiliki kekuatan yang luar biasa itu dia harus diikuti risalah rohani. Dia harus membawa perubahan akhlak dan rohani yang menjadi tujuan utamanya, dan mu’jizat itu hanya diperlukan demi menunjang tujuan tersebut. Yang pertama-tama harus diperhatikan adalah mu’jizat itu harus memiliki makna tujuan akhir, sedangkan mu’jizat seperti itu cuma berakhir pada dirinya sendiri saja. Jadi  mu’jizat itu harus dibuktikan dengan pengaruh yang dihasilkannya.

Pertanyaan paling penting bagi kita karenanya: dengan mengira Yesus melakukan segala mu’jizat atau keajaiban-keajaiban yang menakjubkan seperti tercantum di dalam Injil, apa hasilnya? Seberapa besar keberhasilan yang ia capai dalam mentransformasi manusia? Salah satu Injil mengatakan kepada kita bahwa Yesus telah diikuti oleh sejumlah besar orang sakit yang semuanya disembuhkan, lainnya lagi mengatakan banyak sekali yang disembuhkan. Sekarang, jika yang dinyatakan itu benar, maka tak seorang pun di negeri itu akan tersisa untuk beriman kepada Yesus. Sungguh tak masuk akal bahwa mereka yang menyaksikan perbuatan luar biasa yang dilakukan Yesus Kristus itu malah dia sendiri ditolak dan dituduh sebagai seorang pendusta. Mereka melihat bahwa orang-orang yang sakit disembuhkan dan yang mati dihidupkan kembali tapi mengapa mereka masih saja tidak beriman kepadanya bila tak ada satu keajaiban pun yang ditempa? Dan betapa anehnya meskipun sejumlah besar manusia disembuhkan, tapi mengapa tak seorang pun percaya kepada Yesus, meskipun Injil memberitahukan kepada kita bahwa kepercayaan itu adalah kondisi paling prima untuk kesembuhan; karena jika sejumlah besar manusia itu percaya kepada Yesus, niscaya dia akan diikuti oleh lebih banyak lagi ketika saat penyalibannya dari sekedar kenyataan yang telah terjadi, maka saat itu pun niscaya cukup besar untuk  merobohkan kekuasaan pada waktu itu.

Tapi apakah yang kita dapati? Para pengikut Yesus itu menyedihkan sekali, bukan hanya dalam jumlah, tapi juga dalam hal karakter. Dari sejumlah limaratus orang yang mengikutinya dia hanya memilih duabelas orang saja yang duduk dalam duabelas kedudukan terhormat yang bisa dipercaya untuk bekerja di hadapan Tuannya, dan yang duabelas orang ini benar-benar sangat lemah karakternya, yang paling menonjol dari mereka adalah Petrus yang pernah mengingkari Yesus sebanyak tiga kali karena merasa takut diperlakukan keras oleh para musuh, dan ia tak ragu-ragu mengutuk yang kutukan itu dia anggap hanya untuk mengelak saja. Lain-lainnya lagi bahkan tidak mau mendekati  Yesus, sementara salah seorang yang terpilih dari mereka berbalik menjadi pengkhianat. Dalam suatu peristiwa paling awal ketika Yesus meminta kepada mereka untuk berdo’a baginya, beliau dapati semuanya tertidur lelap. Sering sekali beliau memberi peringatan keras kepada mereka karena tak memiliki iman. Jika di dunia ini segala mu’jizat dilakukan oleh Yesus, dan bila mereka pernah menyaksikannya, tidakkah perkara itu akan berkesan? Tapi buktinya Yesus tidak bisa membawa perubahan berarti, baik kepada para sahabatnya apalagi kepada para musuhnya, ini cukup untuk menjadi bukti dan saksi bahwa kisah segala keajaiban itu sebenarnya hanyalah rekayasa belaka.

Kegetiran hasil yang dicapai oleh Yesus Kristus meskipun dibarengi segala kisah keajabian yang dianggap hebat itu, tak ada artinya bila dibandingkan dengan hasil yang dicapai oleh Nabi Besar Dunia yang muncul di negeri Arab. Di hadapan Nabi Suci adalah bangsa yang belum pernah samasekali mendapat petunjuk kebenaran, di antara mereka itu belum pernah ada seorang Nabi pun yang pernah muncul sebelum beliau, usaha mereformasi mereka baik yang dikerjakan oleh Yahudi maupun Kristen terbukti gagal total. Bangsa ini, baik kebudayaan materi maupun moral, telah tenggelam ke jurang kehinaan dan kebobrokkan, berabad-abad lamanya suara para pembaharu hanya jatuh menimpa telinga tuli. Namun dalam waktu yang kurang dari seperempat abad saja, perubahan ajaib telah membalikannya. Kejahatan yang sudah begitu tua dilenyapkan, kedunguan dan klenik khayali diganti dengan kecintaan terhadap ilmu dan keintelektualan. Dari segala unsur manusia yang pecah berantakan yang tidak mengenal apa itu namanya bangsa, tumbuh menjadi suatu bangsa yang hidup bersatu dan menjadi bangsa yang termaju di antara berbagai bangsa yang besar-besar di dunia dari keadaan yang tak mempunyai kekuasaan apa pun yang kemudian ilmu pengetahuannya menjadi obor dunia selama berabad-abad. Ketahuilah bahwa kemajuan material itu adalah akibat dari perubahan batin, perubahan akhlak dan sudah tentu utamanya adalah perubahan atau transformasi rohaniah dimana hal ini tidak ada persamaannya dan tidak pernah pula disaksikan di belahan dunia lainnya. Baik dalam bidang akhlak, moral maupun material, Muhammad saw membangkitkan suatu bangsa dari keterpurukkan ke tingkat kemajuan yang luar biasa. Kebalikan dari ini, apa yang diperbuat Yesus Kristus? Di hadapan beliau sudah terpampang bangsa Yahudi yang sudah pandai membaca kitab-kitab suci dan pernah berpengalaman melakukan kebajikan yang paling tidak dalam bentuk lahiriahnya saja. Beliau juga sudah mendapati bahwa bangsa itu hidup di bawah pemerintahan yang berbudaya dengan peradaban material demi menunjang kemajuannya. Meskipun dengan adanya kemajuan tersebut, beliau tetap tidak bisa menghasilkan perubahan sedikit pun terhadap kehidupan bangsa tersebut apalagi secara keseluruhan. Jika akibatnya begitu menyedihkan, maka sudah pasti tidak mungkin ada sesuatu yang dikerjakan secara menakjubkan. Dalam hal inilah, kisah segala keajaiban atau mu’jizat yang aneh-aneh itu jelas sekali hanya berupa rekayasa semata atau hanya berupa perkara yang dilebih-lebihkan saja dari keadaan yang sebenarnya demi menutupi borokborok kegagalan yang jelas-jelas kelihatan di depan mata.

Kritik yang menelaah Injil menunjuk kepada kesimpulan yang sama. Markus 8:12  berisi tanda-tanda pengingkaran yang nyata:

“Dan ia mengeluh dalam hatinya, dan berkata, Mengapa generasi ini meminta  keajaiban? Sungguh aku katakan kepadamu. Tak akan ada keajaiban yang akan  diberikan kepada generasi ini”.

 

Pernyataan yang sama dikemukakan di dalam Injil lainnya. Lihatlah Matius 12:39; 16:4 dan di dalam Lukas 11:29.

“Beberapa orang ahli Taurat dan kaum Parisi menjawab sambil berkata, Tuan, kami  ingin melihat keajabian darimu. Tapi dia menjawab dan berkata kepada mereka,  Generasi yang jahat dan berzina ini meminta keajaiban; tidak akan ada keajaiban apa  pun yang akan diberikan kepadamu, kecuali keajaiban dari nabi Yunus” (Matius  12:38-39).

Di sini kita ditunjukkan pengingkaran yang begitu nyata bahwa di sana tidak ada suatu tanda keajaiban pun kecuali keajaiban Nabi Yunus, yang ini dipahami oleh beberapa komentator Injil dengan arti keajaiban ajaran, yang oleh lainnya dipahami sebagai tetap tinggal di kuburan (yakni tetap hidup sebagaimana Yunus) selama tiga hari tiga malam. Jika Yesus telah melakukan keajaiban-keajaiban yang adiluhung, mengapa kaum Parisi meminta keajaiban dan mengapa Yesus menolak untuk memberikan keajaiban tersebut? Dalam menjawab permintaan mereka itu, beliau seharusnya menunjuk kepada ribuan saksi yang telah disembuhkannya; yang pada faktanya kerumunan massa yang ada di sekeliling beliau itu harus bisa membungkam pertanyaan orang-orang tersebut dengan bukti mereka sendiri. Tapi tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Para komentator Injil berkata bahwa kaum Parisi mereka meminta keajaiban luar biasa dan bukan penyembuhan orang-orang yang sakit “karena mereka sudah biasa melakukan hal itu”. Jika itu memang benar begitu, maka jelas sekali bahwa Yesus bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit itu bukan dalam hal yang luar biasa. Dan mengapa Yesus tidak menunjuk kepada orang-orang yang dibangkitkan dari kematian?

Lagi, Markus memberitahukan kepada kita bahwa Yesus tidak bisa berbuat sesuatu yang luar biasa sewaktu di Nazareth, beliau hanya menyembuhkan beberapa orang yang sakit: “Dia tidak bisa mengerjakan sesuatu yang luar biasa, dia hanya menyembuhkan beberapa orang yang sakit dengan meletakkan tangannya di atas mereka, lalu menyembuhkan mereka”. Ini pun menunjukkan bahwa Yesus tidak mampu melakukan mu’jizat yang aneh-aneh, dan menyembuhkan beberapa orang yang sakit tersebut itu cuma pekerjaan biasa saja. Pernyataan ini cukup menjadi bukti bahwa kisah perbuatan yang ajaib serta aneh-aneh itu, sekali lagi, hanya rekayasa belaka, atau paling tidak, ya cuma dilebihlebihkan saja.

Muhammad & Kristus 1

Salah satu prinsip dasar ajaran Islam adalah beriman kepada segenap Nabi di seluruh dunia, suatu keimanan yang pada hakikatnya ialah sebelum datangnya Nabi Suci Muhammad saw., telah dibangkitkan para Nabi di berbagai bangsa. Perubahan besar dengan datangnya Nabi teragung bangsa Arab menyebabkan tugas Nabi nasional diambil alih oleh Nabi Besar Dunia, hal ini demi terciptanya tatanan baru untuk mempersatukan segenap umat manusia. Keimanan kepada segenap Nabi di seluruh dunia yang menjadi dasar keimanan Islam tersebut tidak dipelajari oleh kebanyakan kaum Muslimin dalam hal perbandingan tingkat derajat di antara mereka, sebab perbandingan itu, kata mereka, bisa menimbulkan kebencian. Kenyataannya, mereka merasa dilarang oleh Nabi sendiri untuk melakukan sesuatu yang tak ada gunanya agar masalah tersebut jangan sampai menimbulkan perdebtan yang memanas, mungkin hal itu bisa merendahkan derajat seseorang Nabi. Tapi Qur’an Suci menyatakan dengan kata-kata yang jelas bahwa di antara para Nabi itu ada berbagai tingkat derajat kemuliaan. Firman-Nya:

“Kami membuat sebagian Utusan itu melebihi sebagian yang lain” (2:253).

Karena itu perlu dinyatakan bahwa seseorang Nabi itu sudah tentu memiliki kelebihan dari yang lainnya, dan hal ini tidak bisa dikatakan sebagai suatu penghinaan. Sudah tentu para Nabi itu semuanya manusia sempurna yang dibangkitkan untuk memperbaiki umat manusia, tapi tak diragukan bahwa mereka memiliki keutamaan yang berbeda satu sama lain tergantung pada sifat pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka dan tergantung pula pada keadaan suatu kaum dimana mereka diutus ke sana. Dalam hal inilah, kami mengangkat permasalahan yang sering dikemukakan oleh kaum Kristen yang suka membandingbandingkan antara kebesaran Nabi Muhammad dengan Kristus, ini merupakan kewajiban yang penting untuk dikemukakan meskipun terasa berat, karena banyak kesimpulan dari Kitab Suci Islam yang kerap disalahgambarkan dan disalahmengertikan oleh mereka.

Kesalahan para penulis Kristen pada umumnya sudah diakui bahwa mereka selalu menekankan kata-kata kepercayaan, bukan menekankan sesuatu untuk diamalkan dengan arti yang hakiki, mereka selalu menonjolkan bentuk lahiriahnya saja dan bukan hakikatnya. Bagi mereka, yang dibesar-besarkan hanyalah puji-pujian yang semakin menggunung pada diri seseorang, dan paling banter hanya cerita yang serba ajaib dan aneh-aneh saja dan bukan kewajiban yang harus diamalkan olehnya. Karena inilah, jika dipersoalkan, mereka selalu menyangkal, karena Yesus sendirilah yang mengatakan seperti itu, sedangkan Muhammad saw. tidak, atau mereka berdalih karena pendiri agama Kristen itu banyak sekali melakukan mu’jizat-mu’jizat sedangkan pendiri Islam tidak. Di lain pihak, Qur’an Suci selalu mengemukakan sikap yang berbeda terhadap permasalahan ini, yaitu menekankan tentang “amal perbuatan” yang menjadi tema utamanya, bukan pada kata-kata kepercayaan atau keajaiban-keajaiban yang aneh-aneh. Qur’an membicarakan keagungan Nabi Suci bukan dalam pujian kosong, tidak seperti yang dibicarakan oleh Yesus seperti dikemukakan dalam versi Injil, tapi melukiskan perhatian yang teramat besar terhadap perobahan, yakni perobahan ke arah hidup yang lebih baik lagi dan lebih tinggi lagi di dunia ini. Qur’an tidak selalu membicarakan mu’jizat-mu’jizat beliau meskipun kenyataannya mu’jizat beliau itu jauh lebih besar, namun hal itu hanya dicantumkan dalam berbagai himpunan Hadits saja, yang faktanya, bahwa perkara mu’jizat seperti itu bukan perkara utama tapi perkara sekunder jika dibandingkan dengan mu’jizat-mu’jizat yang lebih besar dan lebih utama lagi. Apa mu’jizat utama itu? Jelas, mu’jizat yang besar itu adalah menanamkan kebaikan dan mencabut segala keburukan di dunia, yakni mu’jizat yang bisa mengangkat derajat manusia dari keadaan hina-dina dan bobrok, lalu mereka diangkat ke tingkat derajat kemuliaan yang tinggi yang bisa mereka capai. Dan karenanya mengapa mu’jizat-mu’jizat itu ditempa dalam arti yang hakiki. Mu’jizat-mu’jizat itu tidak melayani maksud yang bukan-bukan, dan semua itu tidak berakhir begitu saja tapi bahkan mengandung makna untuk lebih meningkatkan rohani penghuni dunia ini secara bergenerasi. Untuk itulah mengapa Qur’an Suci tidak membicarakan Nabi Suci yang muluk-muluk, dan tidak juga menekankan perkara mu’jizat yang aneh-aneh, tapi selalu membicarakan berulang-ulang tentang perobahan yang menakjubkan yang ditempa, suatu transformasi yang unik dan tiada duanya dalam sejarah dunia hingga penulis artikel Koran (Qur’an) di dalam Encyclopaedia Britannica (edisi ketujuh) membicarakannya sebagai “Nabi yang tersukses di antara segenap Nabi dan agama yang ada”, suatu pengakuan yang lebih berbobot dari sekedar kata yang muluk-muluk maupun sekedar sejarah keajaiban yang aneh-aneh seperti yang diceritakan di dalam Injil.

Perlawanan kaum Kristen masa kini, bisa jadi mereka terus memutar otak mencari jalan keluar untuk mengatasi kesulitan yang mereka hadapi. Mereka selalu mengunggulkan Kristus dari Nabi-nabi lainnya dengan berdalil bukan saja berdasarkan Injil sendiri, tapi juga berdasarkan Qur’an. Sudah tentu itu praduga yang sangat aneh! Qur’an, di satu sisi, menyangkal tuduhan palsu yang dikemukakan oleh para penipu tersebut, di sisi lain, sebagai saksi pendukung pengakuan Yesus Kristus yang luar biasa itu. Posisi kontroversial Kristen di sini benar-benar sukar untuk dijelaskan, tapi kita tak perlu terkejut karena perkara yang lebih penting lagi yang berhubungan dengan seluk beluk agama Kristen itu sendiri memang tak bisa dijelaskan. Dikatakan bahwa Qur’an Suci memuji-muji Yesus Kristus. Memang, namun bersamaan itu pula Qur’an menjelaskannya bahwa beliau itu hanya salah seorang di antara sejumlah besar Nabi Bani Israel yang mengikuti Musa; Qur’an mengatakan bahwa beliau hanya seorang Rasul yang risalahnya terbatas bagi satu bangsa saja:

Dan seorang utusan bagi kaum Bani Israel” (3:48)

Penjelasan itu cukup membuktikan bahwa Qur’an Suci tidak secara penuh menempatkan beliau (Nabi ‘Isa) dalam posisi yang terunggul dari Nabi-nabi lainnya, dengan kata lain bahwa beliau bukanlah Nabi bertaraf dunia yang risalahnya jelas dinyatakan untuk segenap bangsa. Tapi apakah kaum Kristen tidak bisa melihat, mengapa Qur’an Suci menghargai Nabi bangsa lain? Sebenarnya, dalam hal ini kaum Kristen tak bisa membedakan antara Injil dan Qur’an Suci. Risalah Nabi Isa hanyalah untuk kalangan Bani Israel saja dan karena itu beliau tidak melakukan apa-apa seperti Nabi-nabi yang lain; risalah Muhammad saw jelas sekali untuk segenap bangsa di seluruh dunia dan oleh karenanya Qur’an Suci membicarakan segenap Nabi-nabi di dunia. Dan lebih-lebih lagi bahwa mengimani segenap Nabi itu, penting sekali untuk mengajarkan rasa hormat terhadap mereka semua. Nah, sewaktu kedatangan Yesus Kristus dan ibunya yang sosok pribadi keduanya adalah orang suci, tapi keduanya sangat dibenci oleh bangsa Israel, padahal keduanya itu bangsa Israel sendiri. Maryam dituduh secara keji sebagai seorang pelacur, dan puteranya dicaci karena dituduh sebagai anak haram jadah hasil dari perzinahan dan juga dianggap sebagai seorang pendusta. Justru Qur’an Sucilah yang mengenyahkan tuduhan keji semacam itu dan menekankan prinsip utama bahwa para Nabi itu adalah orang-orang suci. Mereka yang amat memuji-muji secara berlebihan terhadap Nabi Isa dan ibunya dengan mengambil nara sumber dari Qur’an Suci harus ingat bahwa tuduhan jahat bangsa Yahudi terhadap kedua orang suci itu harus juga menyebutkan kebajikan dan kemuliaan mereka karena pada kenyataannya Nabi-nabi yang lain tidak dicela dengan sebutan sekeji itu tanpa perlu menyebut-nyebut kebaikan mereka.

Karenanya, jika seorang Kristen tidak konsisten dengan menganggap Yesus Kristus itu lebih unggul dari Nabi Suci berdasarkan kitab yang mereka tuduh sebagai karya seorang pendusta, ini pun masih tetap aneh karena pernyataan yang tak ada dasarnya itu seringkali menggambarkan perihal Yesus itu tidak hanya bertentangan dengan Qur’an Suci, tetapi bahkan bertentangan pula dengan Injil itu sendiri sebagai kitab suci agama Kristen, menuduh palsu dan kesimpulannya diambil dari kata-kata Qur’an Suci yang tidak hanya asing bagi pandangannya, namun juga dipungkiri oleh Injil. Dalam meliputi masalah ini karenanya saya akan menunjukkan kepada keduanya, yakni pada Qur’an dan Bebel, khususnya Injil. Tetapi mengenai keabsahan terhadap perkara yang akan dikemukakan dari dua sumber ini, di sana ada dunia dan situasi yang berbeda karena Injil itu ditulis dan disalin berulang-ulang dan ini menjadi penting demi menerima pernyataannya dengan penuh kehati hatian.

Adapun mengenai keotentikan Qur’an Suci, saya tidak perlu mengulur-ngulur waktu lebih lama lagi kepada para pembaca. Dari satu sisi dunia ke sisi lainnya, dari Cina yang ada di Timur Jauh hingga ke Maroko di Ujung Barat, dari kepulauan di Lautan Pasifik yang berserakan hingga ke gurun pasir yang maha luas di Afrika, Qur’an adalah satu, tidak ada satu salinan pun yang berbeda yang bisa dijumpai di setiap orang yang memilikinya di antara empatratus juta lebih kaum Muslimin. Padahal di sana selalu ada perbedaan paham, tetapi tetap memiliki satu Qur’an. Perselisihan politik dan perbedaan ajaran tumbuh berbeda selama seperempat abad setelah wafatnya Nabi Suci, tapi dari mereka itu tak pernah keluar satu suara pun yang melanggar kesucian naskah Qur’an Suci. Sedikit pun tidak dikenal ada perbedaan dalam teksnya. Bahkan Dr. Mingana sekalipun tidak bisa menunjukkan kesalahan akibat kelalaian di dalam menyalin ataupun mentranskripsi oleh tangan yang tak bertanggungjawab yang ia nyatakan di dalam bukunya yang berjudul: “Peninggalan dari tiga Qur’an Kuno”. Dan keaslian salinan naskah tersebut dibuat dan diedarkan dibawah perintah tiga khalifah Nabi Suci tetap terjaga disajikan hingga hari ini. Di sini pendapat seorang tukang kritik yang memusuhi mengatakan:

“Salinan naskah Utsman yang sampai ke tangan kita sekarang tak berubah … perselisihan dan pertikaian golongan membangkitkan mereka untuk membunuh Utsman sendiri dalam masa seperempat abad sejak kematian Muhamad, bahkan sejak perpecahan dunia Muhamad. Namun hanya berlaku Satu Qur’an di antara mereka; dan semua serempak menggunakan kitab suci yang sama di setiap zaman hingga kini tak ada bukti yang dapat disangkal bahwa sekarang pun ada di hadapan kita teks yang disediakan oleh perintah Khalifah yang tak beruntung itu. Mungkin di dunia ini tidak ada karya lain yang selama duabelas abad masih tetap murni teksnya. (Muir: “Life of Mohamet”).(Huruf italik oleh saya, penulis).

Muir lebih jauh menunjukkan bahwa salinan yang dibuat oleh Utsman diyakini sebagai reproduksi dari salinan yang dibuat oleh Zaid hanya enam bulan setelah wafatnya Nabi Suci dan edisi Zaid tersebut diyakini salinan yang diwahyukan kepada Nabi Suci, ia memberikan sejumlah alasan untuk meyakini hal itu, dan kesimpulan yang Muir kemukakan, dia menyetujui pernyataan Von Hammer: “kami yakin bahwa Qur’an benarbenar ucapan Muhammad sebagaimana umat Muhammad yakin bahwa itu adalah firman Ilahi”.

Cerita dan penulisan serta penyalinan Injil sungguh berbeda. Awal mula adanya naskah didapat pada tahun 1859 dalam bahasa Yunani, yang kita diberitahu, bahwa tulisan itu dibuat di pertengahan abad keempat setelah Yesus Kristus tiada. Yang ditemukan di Gunung Sinai di Biara St. Catherine yang dikenal sebagai Siniaticus. Yang lainnya dikenal sebagai Alexandrinus yang kini ada di Museum Inggris terbilang dari abad kelima. Yang lainnya lagi disebut Vatikan terbilang dari abad keempat tapi tak lengkap. Dan semua itu dikatakan sebagai tiga naskah utama. Terhadap kondisi dan keberadaan ketiganya itu akan saya kutip, bukan kritikan, namun datang dari seorang komentator Bebel, Rev. J.R. Dummelow:

“Pertama-tama, para penulis Injil menyampaikan perkataan Yesus dalam bahasa Yunani (meskipun mungkin mereka memiliki beberapa sumber bahasa Aramaik) yang sebagian besar mungkin Yesus berbicara dalam bahasa Aramaik. Baik para penulisnya maupun salinan-salinan yang mereka catat berlangsung di luar Gereja permulaan yang mereka ketahui”.
Begitu pula yang diterapkan oleh St. Paulus. Surat-suratnya, yang kini begitu berharga, hanyalah risalah yang sengaja ditujukan untuk Gereja-gereja. Yang pertama-tama disalinkannya tidak dikenal sebagai barang ‘suci’ dalam pandangan kita.
Bahkan di abad-abad terakhir pun kita tak dapat mengamati dengan teliti terhadap kesucian naskah yang bercirikan perubahan dari Perjanjian Lama. Salinan-salinan tersebut seringkali tidak sesuai dengan naskahnya, tapi dia cuma mengira-ngira dari situ. Ia dipercaya berubah-rubah ingatan, atau ia membuat naskah itu sesuai dengan pandangan sektenya sendiri. Di samping itu, sejumlah besar salinan tetap dipelihara.  Lebih-lebih versi yang disalin dari para Pemimpin Gereja permulaan, hampir empatribu naskah berbahasa Yunani dari Perjanjian Baru diketahui masih tetap ada.  Karenanya, berbagai variasi bacaan tersebut masih bisa dipertimbangkan”.

Kepercayaan apa yang dapat diterapkan dari dokumen-dokumen yang peralihan dan tambahan-tambahan serta perobahannya begitu sembarangan ditulis oleh para penyalinnya? Bahkan penulisannya maupun tanggal penulisannya pun sungguh tak diketahui. Injil Kanonik pertama dipermaklumkan sebagai Injil menurut Matius, seorang Pengikut Yesus. Tapi Injil tersebut sungguh tak pernah ditulis olehnya. Itu ditulis oleh tangan seseorang yang tak diketahui. Kisah penulisan Injil tersebut diterangkan oleh komentatornya, seperti saya kutip di atas, mungkin St. Matius menulisnya dalam bahasa Yunani berupa kitab “logia” (bahasa sehari-hari) atau “oracles” (bahasa lisan) yang tidak bisa dijumpai di mana pun, kecuali tulisan Papias pada tahun 130 Masehi yang meminjam nama Matius dengan susunan kitab seperti itu.

“Terjemahan bahasa Yunaninya dari “Logia” tersebut penulis kita itu rupanya menggunakannya sebebas mungkin, dia mengakukan tugasnya itu dari murid Yesus dengan menyebutnya sebagai karya “menurut Matius”. 


Penjelasan di atas berbicara sendiri. Matius mungkin menulis suatu buku yang tidak ditemukan di mana pun kecuali dalam referensi Papias. Lainnya tetap membingungkan. Tidak sedikit bukti bahwa penulis Injil pertama yang tak dikenal itu memiliki salinan kitab itu dari terjemahan bahasa Yunani, atau mungkin pula dia menggunakan itu semaunya saja. Kebingungan itu sebenarnya sederhana sekali bahwa Injil tersebut disebut saja Injil menurut St Matius, tapi mungkin pula dia hanya menggunakan bahasa lisan saja dari St Matius tadi.
 
Injil berikutnya adalah St. Markus, yaitu seorang sahabat Petrus, dan kesaksian di bawah ini sebagaimana dicatat oleh Papias kuranglebih tahun ke 130 Masehi yang ia hanya bertumpu kepada penjelasan penulis Injil tersebut:


“Markus menjadi (atau dijadikan) penafsir Petrus yang menulis semua apa yang ia ingat (atau, segala apa yang diceritakan oleh Petrus) meskipun dia tak pernah (mencatat) apa yang telah dikatakan oleh Kristus. Karena ia tak pernah mendengar Tuhan, tidak pula pernah mengikuti-Nya; namun sesudahnya, sebagaimana saya katakan, (melibatkan dirinya) kepada Petrus yang menggunakan bentuk ajarannya untuk menemui (secara mendadak) keinginan (para pendengarnya); dan cerita itu tidak ada hubungannya dari sumber Tuhan.

Bahkan jika kita terima bukti ini, Injil St. Markus bisa dikatakan hanya berdasarkan tradisi omongan Petrus belaka, bahkan meskipun bukti itu meragukan bahwa Injil yang ada di tangan kita sekarang benar-benar ditulis oleh Markus, kritik keras tersebut memandang bahwa ia hanya penulis pokok-pokok Injil yang ada sekarang yang disebutkan berasal dari dia.

St. Lukas juga bukan murid Yesus tapi ia hanya pengikut muridnya Yesus dan ia dikatakan ikut Paulus. Dan mengenai Injil yang empat itu, tidak diragukan belakangan banyak sekali ditambah-tambah. Mengenai penanggalan berbagai Injil itu, gambaran yang bisa diterima mengenai tiga Injil pertama semua itu ditulis kurang lebih tahun 70 Masehi, namun para pengeritik ulung mengatakannya jauh lebih belakangan, dan bukti internal menjadi alasan terhadap kesimpulan ini. Dalam membicarakan Injil kanoniknya Matius kita diberitahu bahwa “banyak sekali pemberian tanggal seluruh Injil tersebut di akhir tahun 130 Masehi”. Penanggalan yang terdini bisa diakui bila banyak kutipan-kutipan utama dianggap sebagai interpolasi atau sisipan belakangan. Mengenai penanggalan Injil Lukas kesimpulannya menyebutkan tahun 100 Masehi, ini lebih bisa diterima, dan beberapa keterangan menyatakan bahwa batas tanggal penyusunannya kurang lebih tahun 110. 


Pertimbangan terhadap penulisan, penanggalan dan peralihan Injil-Injil tersebut, sebagian besar naskah, bacaan dan keberadaannya tidak bisa dipungkiri banyak sekali tambahan yang sudah tentu ini bisa mengurangi nilai; dan karena inilah kritik terhadap semua Injil tersebut, seperti dikemukakan di dalam Encyclopaedia Biblica, Pendeta E.A.
 
Abbot mengajukan pertanyaan yang sangat penting:

“Membiarkan bagian-bagian seringkali dapat menimbulkan keraguan yang unsurnya banyak sekali di seluruh Injil”.

Jawaban terhadap pertanyaan yang ada di seluruh Injil, lima kutipan di bawah ini mungkin bisa dianggap dapat dipercaya.

  1. Kutipan yang menunjukkan bahwa Yesus menolak disebut orang tidak berdosa:
    “Mengapa engkau mengatakan aku baik? Tidak ada yang baik kecuali satu, yakni Tuhan” (Markus 10:18)
     

  2. Kutipan yang menunjukkan bahwa orang yang mengutuk beliau diampuni:
    “Semua perkara dosa dan kutukan akan diampuni; tapi kutukan terhadap Ruhul Kudus tidak akan diampuni” (Matius 12:31)
     

  3. Kutipan yang menunjukkan bahwa ibunya sendiri dan saudara-saudaranya tidak mengimaninya dan mereka secara tulus berpikir bahwa ia gila: Dan ketika teman-temannya mendengar itu, mereka keluar untuk mengambil dia, karena mereka berkata, Dia sudah tidak waras lagi” (Markus 3:21). Pada ayat 31 kawan-kawan yang muncul itu adalah ibunya sendiri serta saudara-saudaranya.
     

  4. Kutipan yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus tidak mengetahui barang gaib:
    “Pada hari dan saat itu seorang pun tidak ada yang tahu, sekalipun para malaikat di langit, tidak juga anak kecuali Bapak”.
     
  5. Kutipan yang menunjukkan teriakan rasa putus asa yang dia ucapkan di atas kayu salib: “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau tinggalkan daku”. 
Terhadap yang lima ini ditambah empat lainnya yang meliputi berbagai mu’jizatnya yang akan dibicarakan dalam bab mu’jizat di belakang, dan sembilan kutipan tersebut, ini dikatakan “soko-guru bagi ilmiahnya kehidupan Yesus yang sesungguhnya”.

Akan terlihat bahwa ajaran dasar Kristen terletak pada catatan-catatan yang tak bisa diterima, dan kisah mu’jizat yang ditempa dan dilakukan secara aneh, itu berdasarkan doktrin Keilahian Yesus Kristus dan keunggulannya dari semua manusia, karenanya perkara ini hanya bisa diterima dengan penuh kehati-hatian yang luar biasa. Bagaimanapun pasti terpikir bahwa jika hanya mengandalkan keunggulan Yesus Kristus sebagai manusia biasa yang bisa melebihi manusia lainnya, demikian sabda Pendiri Suci Islam, sudah tentu tidak membuat kita lebih dekat sedikit pun kepada kebenaran agama Kristen hingga ia dapat menunjukkan bahwa ia memiliki sifat keIlahian atau dia melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa. Jika agama Kristen mengikuti prinsip yang diletakkan oleh para Nabi terdahulu, pernyataan bahwa Yesus Kristus manusia yang paling utama dari manusia lainnya yang pernah hidup, pasti akan melakukan sesuatu yang baik terhadap kaum Kristen, namun sejauh doktrin penebusan dosa manusia oleh pribadi Tuhan seperti itu masih tetap menjadi doktrin utama agama tersebut, maka tak kurang bukti bahwa kelebihannya dari manusia lain terletak dalam keilahiannya dan kelebihannya di atas sekalian manusia dapat menjadi penyebab utamanya. Di dalam hal inilah gunanya membicarakan hubungan antara agama Kristen dan Islam, atau hubungan yang bertalian dengan keutamaan para pendirinya, maka ini bisa jadi membantu para pencari kebenaran. Tapi pertentangan yang terdapat di dalam Kristen itu sendiri tidak bisa mengatasi masalah ini. Saya akan mengemukakan berbagai masalah seperti yang dipertentangkan oleh kaum Kristen itu sendiri. Saya mengambil permasalahan Kristen sebagaimana yang disajikan di dalam selebaran-selebaran terakhirnya, sedikit menyinggung risalah agama yang disampaikan oleh para Missionaris Kristen di Ludhiana, India, di bawah judul Haqa’iq-I Qur’an, atau “Hakikat Qur’an” yang diakukan berdasarkan hanya dari “pernyataan Qur’an saja” yang telah diedarkan dan disiarkan di India, dan melalui lembaran-lembaran Dunia Muslim, di seluruh negeri-negeri Kristen maupun negeri Muslim.