Selama ini kita mungkin hanya mengetahui bahwa penyaliban Yesus adalah satu-satunya penyaliban yang dilakukan terhadap Tuhan sebagai penebus Dosa bagi anak-anak manusia. Tapi tahukah anda bahwa Tuhan yang pernah di salib oleh manusia bukan hanya Yesus?
Tahukah anda bahwa kisah penyaliban tuhan lebih banyak bersumber dari mitos-mitos dan cerita-cerita hikayat?
Ingin mengetahui lebih lanjut? Saksikan videonya di bawah ini. Anda juga bisa menyaksikan video-video lainnya mengenai kisah penyaliban tuhan dengan merujuk pada link
Selamat menyaksikan. (Bahasa Indonesia subtitle)
MENGGUGAT KEYAKINAN BERFIKIR KITA DAN MELIHAT LEBIH DALAM TENTANG DOGMATIKA GEREJA YANG TELAH MENDARAH DAGING DALAM KEPALA MANUSIA
MENURUT ANDA, BLOG INI ?
Wednesday, 5 January 2011
DAFTAR BIBLE YANG TELAH BEREDAR
(1)KING JAMES VERSION (1611).
(2)REVISED STANDARD VERSION (1952). Dikeluarkan oleh kaum
Protestan A.S. dengan perubahan-pelubahan atas dasar
naskah-naskah yang lebih authentic. Terus-menerus
direvisi, dengan APOCRYPHA untuk Katolik dan Orthodox
Timur.
(3)THE YERUSALEM BIBLE (1966). Saduran Katolik, di mana
Tuhan disebut "Yahweh." Bersejarah, karena lain dari
naskah Latin oleh Jerome, dan adanya catatan-catatan
kritik modern.
(4)NEW ENGLISH BIBLE (1970). Walaupun saduran gerejani
dibawah perlindungan Anglican-Protestan, tapi mudah
dibaca, bersumber dan naskah-naskah kuna tanpa
tergantung pada terjemahan-terjemahan yang lebih
dahulu. Apocrypha ada.
(5)NEW AMERICAN BIBLE (1970). Terbitan Katolik A.S.
mutakhir, terjemahan dari bahasa-bahasa yang semula.
Ini dan Yerusalem Bible mendesak bible dan
DOUAY-RHEIMS, Bible Katolik yang lebih rendah mutunya
dari KING JAMES.
(6)NEW AMERICAN STANDARD BIBLE (1971). Revisi yang disusun
agak kaku dari saduran yang lebih dahulu dan diabaikan.
Kesukaan kaum Fundamentalist. Dituduh agak memalsukan
text agar Bible dipandang lebih tepat.
(7)THE LIVING BIBLE (1966). Dinista oleh kaum Purist
karena kebebasannya dengan naskah. Paraphrase ini
oleh seorang Injili KENNETH TAYLOR mempopulerkan
Alkitab yang diperjual-belikan di supermarket dan kios.
(8)THE HOLY SCRIPTURES (1917). Wasiat Lama untuk umat Yahudi.
Berdasar atas bible-bible yang lebih tua dalam bahasa
Inggris. Para Sarjana akan tamatkan sebuah saduran modern
yang lebih baik pada tahun 1980-an.
(9)NEW TESTAMENT IN MODERN ENGLISH (1958). Paraphrase dan
seorang pendeta Inggris J.B. PHILLIPS, yang membuat
Injil-injil dan surat-surat mudah difahami.
(10) TODAY'S ENGLISH VERSION (1966). Sebuah terjemahan dan
Perjanjian Baru dalam bahasa yang ringkas.
Dari American Bible Society.
(11) NEW INTERNATIONAL VERSION (1973). Terbitan terakhir
dari Perjanjian Baru oleh suatu panel internasional
dari 108 sarjana yang berniat menerbitkan Bible yang
lengkap pada tahun 1978.
Lain sekali dengan aneka karya insani tersebut di atas
(bukan dalam bahasa Yesus Kristus) Al-Qur'an, Wahyu Ilahi
kepada Nabi Muhammad S.A.W., dalam bahasa Arab logat Quraisy
dengan gaya yang tiada ada taranya; baik classic maupun
modern, selama 14 abad, naskahnya yang tunggal tidak berubah
hingga saat ini dan lagi merupakan text-book di seluruh
dunia yang senantiasa dibaca dan dipelajari.
(2)REVISED STANDARD VERSION (1952). Dikeluarkan oleh kaum
Protestan A.S. dengan perubahan-pelubahan atas dasar
naskah-naskah yang lebih authentic. Terus-menerus
direvisi, dengan APOCRYPHA untuk Katolik dan Orthodox
Timur.
(3)THE YERUSALEM BIBLE (1966). Saduran Katolik, di mana
Tuhan disebut "Yahweh." Bersejarah, karena lain dari
naskah Latin oleh Jerome, dan adanya catatan-catatan
kritik modern.
(4)NEW ENGLISH BIBLE (1970). Walaupun saduran gerejani
dibawah perlindungan Anglican-Protestan, tapi mudah
dibaca, bersumber dan naskah-naskah kuna tanpa
tergantung pada terjemahan-terjemahan yang lebih
dahulu. Apocrypha ada.
(5)NEW AMERICAN BIBLE (1970). Terbitan Katolik A.S.
mutakhir, terjemahan dari bahasa-bahasa yang semula.
Ini dan Yerusalem Bible mendesak bible dan
DOUAY-RHEIMS, Bible Katolik yang lebih rendah mutunya
dari KING JAMES.
(6)NEW AMERICAN STANDARD BIBLE (1971). Revisi yang disusun
agak kaku dari saduran yang lebih dahulu dan diabaikan.
Kesukaan kaum Fundamentalist. Dituduh agak memalsukan
text agar Bible dipandang lebih tepat.
(7)THE LIVING BIBLE (1966). Dinista oleh kaum Purist
karena kebebasannya dengan naskah. Paraphrase ini
oleh seorang Injili KENNETH TAYLOR mempopulerkan
Alkitab yang diperjual-belikan di supermarket dan kios.
(8)THE HOLY SCRIPTURES (1917). Wasiat Lama untuk umat Yahudi.
Berdasar atas bible-bible yang lebih tua dalam bahasa
Inggris. Para Sarjana akan tamatkan sebuah saduran modern
yang lebih baik pada tahun 1980-an.
(9)NEW TESTAMENT IN MODERN ENGLISH (1958). Paraphrase dan
seorang pendeta Inggris J.B. PHILLIPS, yang membuat
Injil-injil dan surat-surat mudah difahami.
(10) TODAY'S ENGLISH VERSION (1966). Sebuah terjemahan dan
Perjanjian Baru dalam bahasa yang ringkas.
Dari American Bible Society.
(11) NEW INTERNATIONAL VERSION (1973). Terbitan terakhir
dari Perjanjian Baru oleh suatu panel internasional
dari 108 sarjana yang berniat menerbitkan Bible yang
lengkap pada tahun 1978.
Lain sekali dengan aneka karya insani tersebut di atas
(bukan dalam bahasa Yesus Kristus) Al-Qur'an, Wahyu Ilahi
kepada Nabi Muhammad S.A.W., dalam bahasa Arab logat Quraisy
dengan gaya yang tiada ada taranya; baik classic maupun
modern, selama 14 abad, naskahnya yang tunggal tidak berubah
hingga saat ini dan lagi merupakan text-book di seluruh
dunia yang senantiasa dibaca dan dipelajari.
GEREJA ORTODOKS
Gereja Ortodoks
Gereja-Gereja Ortodoks, adalah nama sebuah kelompok denominasi gereja yang pengikutnya terutama berada di Eropa Timur dan daerah pesisir timur Laut Tengah. Selain itu, Gereja Ortodoks juga terdapat di India, Jepang, dan sekarang juga di Indonesia.
Umat gereja Ortodoks beribadat mengikuti Ritus Bizantin dan tata-tertib gerejawi Bizantium karena pengaruh Gereja Konstantinopel (Bizantium). Selama milenium (seribu tahun) pertama Kekristenan, lima wilayah yaitu Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia, Roma dan Konstantinopel berada dalam persekutuan dan mengaku sebagai Gereja yang Satu, Kudus (Suci), Katolik (Penuh/Universal) dan Apostolik (Rasuli). Perkembangan politik dan jatuhnya Romawi Barat ke tangan suku-suku Jerman mengakibatkan jarangnya komunikasi antara Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia dan Konstantinopel). Pada tahun 1054 utusan Paus Roma ke Konstantinopel mengekskomunikasi Patriarkh Konstantinopel, yang membalas dengan tindakan serupa. Menurut pandangan Roma (satu-satunya wilayah patriarkhal Gereja Barat), Gereja Ortodoks yang memisahkan diri dari Gereja Yang Satu yaitu Gereja Katolik Roma. Tapi menurut pandangan Gereja Timur (empat wilayah patriarkhal), Roma lah yang jatuh dalam kesesatan (dengan memaksakan kekuasaan paus dan mengubah Pengakuan Iman Nicea) dan memisahkan diri dari Gereja Yang Satu. Perpecahan ini disebut skisma. Sampai sekarang Gereja Ortodoks tetap menganggap dirinya sebagai Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Gereja Katolik Roma juga mengklaim hal yang sama
Perbedaan dengan Gereja Barat
Ada perbedaan dengan Gereja Katolik Roma namun banyak pula persamaannya. Kalangan Kristen lainnya cenderung menganggap bahwa perbedaan utamanya ialah bahwa Gereja Ortodoks banyak menekankan ritus dan doa dalam bahasa tertentu, terutama dalam Bahasa Yunani Kuno atau Bahasa Slavonik Kuno Gerejawi (Old Church Slavonic). Sebenarnya Gereja Ortodoks menganut prinsip bahwa ibadah atau liturgi hendaknya dimengerti oleh umat. Oleh karena itu sejak permulaan, Gereja Ortodoks mendukung usaha penerjemahan Kitab Suci dan liturgi ke bahasa setempat. Bahasa Yunani Perjanjian Baru (Koine) adalah bahasa asli Kitab Suci Perjanjian Baru, jadi bahasa ini menduduki tempat khusus dalam kehidupan Gereja. Namun di Yunani sekarang ibadah dirayakan dalam bahasa Yunani yang dimengerti umat, bukan bahasa Yunani abad pertama.
Pemakaian bahasa Slavonik sebenarnya merupakan bukti prinsip penerjemahan tersebut. Santo Cyril dan Santo Methodius menyebarkan agama Kristen (Ortodoks) ke bangsa-bangsa Slavia (Eropa Timur) pada abad ke-10 dan menerjemahkan Kitab Suci dan liturgi ke bahasa mereka saat itu. Bahasa Slavonik yang dipakai mereka menjadi semacam bahasa klasik bagi bangsa-bangsa Slavia termasuk Rusia. Walau mungkin gereja-gereja di sana masih memakai bahasa Slavonik Kuno, secara prinsip Gereja Ortodoks menekankan bahwa bahasa liturgi hendaklah dimengerti oleh umat. Gereja-gereja Ortodoks di Eropa Barat, Amerika dan Asia biasanya memakai bahasa setempat.
Lalu teologi gereja Ortodoks lebih bersifat mistik. Gereja-gereja Ortodoks juga cenderung menjadi gereja nasional, misalkan Gereja Ortodoks Rusia, Yunani dan sebagainya
Jumlah penganut
Bersasarkan jumlah penganut, Ortodoksi Timur adalah komuni Kristiani terbesar kedua di dunia sesudah Gereja Katolik Roma Estimasi paling umum mengenai jumlah umat Kristiani Ortodoks Timur di seluruh dunia berkisar antara 150-350 juta jiwa. Ortodoksi Timur adalah agama tunggal terbesar di Belarusia (89%), Bulgaria (86%), Republik Siprus (88%), Georgia (89%), Yunani (98%), Republik Makedonia (70%), Moldova (98%), Montenegro (84%), Romania (89%), Rusia (88%), Serbia (88%), dan Ukraina (83%).Ortodoksi Timur juga merupakan agama dominan di Republika Srpska (92%) entitas di Bosnia dan Herzegovina, serta agama dominan di Kazakhstan Utara (48% dari populasi Kazakhstan). Selain itu, ada pula sejumlah besar komunitas Ortodoks di Afrika, Asia, Australia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Ortodoksi-Timur dan Ortodoksi-Oriental
Gereja-Gereja Ortodoks mengklaim diri sebagai kelanjutan dari jemaah Kristiani perdana, yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri serta para Rasul-Nya. Namun perlu diperhatikan bahwa ada dua persekutuan Ortodoks yang berbeda. Persekutuan Ortodoks yang pertama dan yang terbesar adalah yang disebut Gereja Ortodoks Timur, yakni gereja-gereja Ortodoks yang menerima hasil ketujuh Konsili ekumenis seperti Gereja Katolik Roma. Komunitas Ortodoks yang lain dibedakan dari Ortodoksi Timur dengan menggunakan sebutan Gereja Ortodoks Oriental. Ortodoksi Oriental hanya menerima hasil dari 3 Konsili Ekumenis yang pertama, yaitu Konsili Nicea I, Konsili Konstantinopel I, dan Konsili Efesus. Komunitas ini terpisah setelah beberapa Uskup peserta Konsili Khalsedon memutuskan untuk tidak menerima hasil Konsili tersebut, dan dengan demikian memutuskan jalinan persekutuan dengan Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan Apostolik, yang pada masa itu meliputi baik Gereja-Gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Katolik Roma
Persamaan dengan Gereja Barat
Persamaan dengan Gereja Katolik Roma ialah Gereja Ortodoks mengakui semua keputusan-keputusan ke-7 Konsili Ekumenis sebelum tahun 1054. Misalkan Doa Syahadat Nicea juga dipakai tetapi tanpa kata filioque yang merupakan tambahan dari Katolik Roma tanpa persetujuan dari 4 Patriarkh di Timur. Imam Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik Ritus Timur diizinkan menikah, namun para uskupnya dipilih hanya dari mereka yang selibat (tidak menikah)
Pasca Skisma
Semenjak perpecahan Gereja Ortodoks sering bertikai dengan Gereja Barat. Bahkan ketika Konstantinopel direbut orang Turki pada tahun 1453, orang Barat tidak membantu.
Lalu semenjak tahun 1917 dengan Revolusi Oktober di Rusia, Gereja Ortodoks Rusia mulai ditindas dengan kejam oleh rezim komunis. Banyak rohaniwan dibunuh atau dideportasi ke Siberia. Gedung-gedung gereja banyak yang berubah fungsi menjadi tempat-tempat lain, bahkan kadang-kadang dipakai sebagai penjara. Mereka baru boleh bebas beribadah lagi pada awal dasawarsa terakhir abad ke-20.
Sumber : Gereja Ortodoks
Gereja-Gereja Ortodoks, adalah nama sebuah kelompok denominasi gereja yang pengikutnya terutama berada di Eropa Timur dan daerah pesisir timur Laut Tengah. Selain itu, Gereja Ortodoks juga terdapat di India, Jepang, dan sekarang juga di Indonesia.
Umat gereja Ortodoks beribadat mengikuti Ritus Bizantin dan tata-tertib gerejawi Bizantium karena pengaruh Gereja Konstantinopel (Bizantium). Selama milenium (seribu tahun) pertama Kekristenan, lima wilayah yaitu Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia, Roma dan Konstantinopel berada dalam persekutuan dan mengaku sebagai Gereja yang Satu, Kudus (Suci), Katolik (Penuh/Universal) dan Apostolik (Rasuli). Perkembangan politik dan jatuhnya Romawi Barat ke tangan suku-suku Jerman mengakibatkan jarangnya komunikasi antara Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia dan Konstantinopel). Pada tahun 1054 utusan Paus Roma ke Konstantinopel mengekskomunikasi Patriarkh Konstantinopel, yang membalas dengan tindakan serupa. Menurut pandangan Roma (satu-satunya wilayah patriarkhal Gereja Barat), Gereja Ortodoks yang memisahkan diri dari Gereja Yang Satu yaitu Gereja Katolik Roma. Tapi menurut pandangan Gereja Timur (empat wilayah patriarkhal), Roma lah yang jatuh dalam kesesatan (dengan memaksakan kekuasaan paus dan mengubah Pengakuan Iman Nicea) dan memisahkan diri dari Gereja Yang Satu. Perpecahan ini disebut skisma. Sampai sekarang Gereja Ortodoks tetap menganggap dirinya sebagai Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Gereja Katolik Roma juga mengklaim hal yang sama
Perbedaan dengan Gereja Barat
Ada perbedaan dengan Gereja Katolik Roma namun banyak pula persamaannya. Kalangan Kristen lainnya cenderung menganggap bahwa perbedaan utamanya ialah bahwa Gereja Ortodoks banyak menekankan ritus dan doa dalam bahasa tertentu, terutama dalam Bahasa Yunani Kuno atau Bahasa Slavonik Kuno Gerejawi (Old Church Slavonic). Sebenarnya Gereja Ortodoks menganut prinsip bahwa ibadah atau liturgi hendaknya dimengerti oleh umat. Oleh karena itu sejak permulaan, Gereja Ortodoks mendukung usaha penerjemahan Kitab Suci dan liturgi ke bahasa setempat. Bahasa Yunani Perjanjian Baru (Koine) adalah bahasa asli Kitab Suci Perjanjian Baru, jadi bahasa ini menduduki tempat khusus dalam kehidupan Gereja. Namun di Yunani sekarang ibadah dirayakan dalam bahasa Yunani yang dimengerti umat, bukan bahasa Yunani abad pertama.
Pemakaian bahasa Slavonik sebenarnya merupakan bukti prinsip penerjemahan tersebut. Santo Cyril dan Santo Methodius menyebarkan agama Kristen (Ortodoks) ke bangsa-bangsa Slavia (Eropa Timur) pada abad ke-10 dan menerjemahkan Kitab Suci dan liturgi ke bahasa mereka saat itu. Bahasa Slavonik yang dipakai mereka menjadi semacam bahasa klasik bagi bangsa-bangsa Slavia termasuk Rusia. Walau mungkin gereja-gereja di sana masih memakai bahasa Slavonik Kuno, secara prinsip Gereja Ortodoks menekankan bahwa bahasa liturgi hendaklah dimengerti oleh umat. Gereja-gereja Ortodoks di Eropa Barat, Amerika dan Asia biasanya memakai bahasa setempat.
Lalu teologi gereja Ortodoks lebih bersifat mistik. Gereja-gereja Ortodoks juga cenderung menjadi gereja nasional, misalkan Gereja Ortodoks Rusia, Yunani dan sebagainya
Jumlah penganut
Bersasarkan jumlah penganut, Ortodoksi Timur adalah komuni Kristiani terbesar kedua di dunia sesudah Gereja Katolik Roma Estimasi paling umum mengenai jumlah umat Kristiani Ortodoks Timur di seluruh dunia berkisar antara 150-350 juta jiwa. Ortodoksi Timur adalah agama tunggal terbesar di Belarusia (89%), Bulgaria (86%), Republik Siprus (88%), Georgia (89%), Yunani (98%), Republik Makedonia (70%), Moldova (98%), Montenegro (84%), Romania (89%), Rusia (88%), Serbia (88%), dan Ukraina (83%).Ortodoksi Timur juga merupakan agama dominan di Republika Srpska (92%) entitas di Bosnia dan Herzegovina, serta agama dominan di Kazakhstan Utara (48% dari populasi Kazakhstan). Selain itu, ada pula sejumlah besar komunitas Ortodoks di Afrika, Asia, Australia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Ortodoksi-Timur dan Ortodoksi-Oriental
Gereja-Gereja Ortodoks mengklaim diri sebagai kelanjutan dari jemaah Kristiani perdana, yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri serta para Rasul-Nya. Namun perlu diperhatikan bahwa ada dua persekutuan Ortodoks yang berbeda. Persekutuan Ortodoks yang pertama dan yang terbesar adalah yang disebut Gereja Ortodoks Timur, yakni gereja-gereja Ortodoks yang menerima hasil ketujuh Konsili ekumenis seperti Gereja Katolik Roma. Komunitas Ortodoks yang lain dibedakan dari Ortodoksi Timur dengan menggunakan sebutan Gereja Ortodoks Oriental. Ortodoksi Oriental hanya menerima hasil dari 3 Konsili Ekumenis yang pertama, yaitu Konsili Nicea I, Konsili Konstantinopel I, dan Konsili Efesus. Komunitas ini terpisah setelah beberapa Uskup peserta Konsili Khalsedon memutuskan untuk tidak menerima hasil Konsili tersebut, dan dengan demikian memutuskan jalinan persekutuan dengan Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan Apostolik, yang pada masa itu meliputi baik Gereja-Gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Katolik Roma
Persamaan dengan Gereja Barat
Persamaan dengan Gereja Katolik Roma ialah Gereja Ortodoks mengakui semua keputusan-keputusan ke-7 Konsili Ekumenis sebelum tahun 1054. Misalkan Doa Syahadat Nicea juga dipakai tetapi tanpa kata filioque yang merupakan tambahan dari Katolik Roma tanpa persetujuan dari 4 Patriarkh di Timur. Imam Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik Ritus Timur diizinkan menikah, namun para uskupnya dipilih hanya dari mereka yang selibat (tidak menikah)
Pasca Skisma
Semenjak perpecahan Gereja Ortodoks sering bertikai dengan Gereja Barat. Bahkan ketika Konstantinopel direbut orang Turki pada tahun 1453, orang Barat tidak membantu.
Lalu semenjak tahun 1917 dengan Revolusi Oktober di Rusia, Gereja Ortodoks Rusia mulai ditindas dengan kejam oleh rezim komunis. Banyak rohaniwan dibunuh atau dideportasi ke Siberia. Gedung-gedung gereja banyak yang berubah fungsi menjadi tempat-tempat lain, bahkan kadang-kadang dipakai sebagai penjara. Mereka baru boleh bebas beribadah lagi pada awal dasawarsa terakhir abad ke-20.
Sumber : Gereja Ortodoks
Paus Shenouda Serukan Umat Kristen Tidak Makan Daging Babi
[View/Download]
Paus Shenouda III, pimpinan Gereja Ortodok Kristen Koptik di Mesir, menyerukan agar umat Kristen Koptik tidak makan daging babi dengan alasan kesehatan.
Seruan itu disampaikan Paus dalam misa mingguan di hadapan para jamaahnya. "Meski Alkitab tidak melarang daging babi, daging jenis hewan ini menyebabkan beragam penyakit, " ujarnya. Menurut Paus Shenouda III, masak daging babi harus benar-benar matang dan sebelum dikonsumsi harus melalui pemeriksaan kesehatan karena babi gemar makan makanan yang kotor.
Para ilmuwan juga mengakui bahwa daging babi adalah sumber dari sekitar 70 jenis penyakit. Karena babi dikenal sebagai hewan yang jorok, pemakan segala baik daging maupun tumbuhan. Beda dengan kebiasaan makan sapi atau domba yang hanya makan tumbuhan.
Orang yang biasa makan makan babi, bisa terkena berbagai jenis penyakit cacingan yang bisa menyerang otak, jantung dan hati, bahkan bisa menyebabkan kebutaan. Itulah sebabnya, ajaran Islam bahkan mengharamkan daging babi.
Seruan Paus Shenouda III agar umat Kristen tidak makan babi, mendapat dukungan dari Uskup Maximous yang memisahkan diri dari Gereja Ortodok dan mendirikan Gereja Kristen Ortodok sendiri di wilayah Al-Mokkam, Kairo.
"Saya sangat setuju dengan nasehat Paus Shenouda. Saya sendiri tidak makan daging babi, meski tidak dilarang dalam Alkitab, karena daging babi membahayakan kesehatan, " katanya.
Namun para pemuka Kristen lainnya, terutama kalangan Kristen Anglikan dan Katolik mengecam himbauan Paus Shenouda.
"Pandangan-pandangan Shenouda tentang apa yang harus dimakan dan tidak boleh dimakan umat Kristen membawa kembali umat Kristen ke era Yudaisme, " kata Refaat Fekri, pastor Gereja Anglikan di Shubra, sebelah utara Kairo.
Menurutnya, Yesus tidak melarang makanan apapun dan ajaran Kristen memberikan kebebasan bagi para penganutnya untuk memilih apa yang ingin dimakannya. Tak ada seorang pun yang berhak untuk melarang atau mengizinkan jenis makanan tertentu buat umat Kristiani.
Pendapat Pastor Fekri didukung oleh juru bicara Gereja Katolik Mesir, Pendeta Rafiq Gresh. "Paus Shenouda tidak bisa memilihkan menu untuk penganut Kristen. Gereja Katolik tidak melarang makanan atau minuman tertentu, termasuk alkohol. Karena keputusan untuk ada ditangan umat Kristen sendiri, " tukasnya.
ORTODOKS INDONESIA
Anda pasti sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan ini. Tapi mengapa kemudian Anda mau terlibat aktif dalam gereja dengan menjadi salah satu ketua di Gereja Ortodoks Indonesia?
Memang sejak kecil saya sangat dekat dengan pelayanan gereja. Bapak saya memang seorang tentara tapi di samping berperang dia juga penginjil. Dia salah satu pendiri kodam Bukit Barisan bersama-sama dengan Pak Djamin Ginting. Pak Djamin komandan resimen sedangkan ayah saya komandan markas pertempurannya. Jadi setiap istirahat dia panggil anak buahnya dan buka Alkitab untuk mengajari mereka. Kebetulan orang-orang Karo saat itu belum punya agama. Setelah masuk ke Medan tahun 1950, setahun kemudian 500 orang dibaptis di sana. Ini hasil penginjilannya pada saat-saat perang. Nah dari sini rupanya secara tidak langsung semangat ayah itu meresapi saya. Ayah begitu tekun ibadahnya dan saya sangat terkesan. Jadi boleh dikatakan sudah ada dasar dari orang tua. Sehingga boleh dikatakan kehidupan rohani sudah sangat melekat. Tetapi dalam hidup rohani ini kita jangan sekali-kali mencuri kemuliaan Allah. Seringkali orang kalau sudah dekat Tuhan lalu merasa yang paling hebat. Apalagi kalau dia sudah pintar berkotbah atau isi Alkitab sudah di luar kepala. Berdoa bisa dengan suara menggelegar dan seterusnya. Saya tidak begitu cocok dengan cara seperti itu.
Memang di Ortodoks bagaimana cara berdoanya?
Ortodoks itu lain. Saya ikut ortodoks sejak 8 tahun lalu. Pertama saya pikir ortodoks itu agama baru. Saya mendengar pada waktu itu di Sahid Hotel dalam acara yang diadakan oleh Jusuf Roni. Dia mengundang Romo Daniel Bambang. Di situ saya melihat sesuatu yang lain. Saya orangnya yang kritis sekali dan tidak cepat percaya. Apalagi kalau pakai kata muluk-muluk atau iming-iming. Tapi dari pelajaran yang diberikan oleh Romo Daniel saya tertarik dan lalu minta dia mengadakan semacam katekisasi. Setelah satu tahun katekisasi saya merasa mendapatkan pemahaman baru. Di sini saya merasa banyak pertanyaan dalam diri saya terjawab, termasuk soal tritunggal, Allah, Tuhan. Dulunya jawaban-jawaban yang saya dapatkan nggak pernah pas. Jadi Tritunggal ortodoks itu begini: Allah itu esa dan di dalam diri Allah yang esa itu ada esensi dan zatnya ilahi. Jadi kalau Allah mau menciptakan sesuatu dia memakai Firman. Dan karya-karya-Nya berdasarkan roh-Nya. Berarti dalam diri Allah itu ada roh dan ada Firman. Jadi Allah, Firman dan Roh adalah satu. Kelihatannya 'kan ada tiga. Tapi sebenarnya itu satu. Nah, firman-Nya jadi manusia namanya Yesus Kristus. Kehadiran Yesus Kristus sama saja dengan kehadiran Allah.
Lantas, hal apa yang paling membedakan antara Gereja Ortodoks dan gereja-gereja yang lain ?
Yang mendirikan gereja ortodoks adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus meneruskan kepada para murid-Nya. Dan murid-murid ini mengajarkan lagi kepada murid-murid yang lain dan berkesinambungan terus. Orang-orang ortodoks di dunia ini sekitar 450 juta orang. Liturginya di mana-mana sama. Sedangkan kalau mau dilihat urut-urutannya, setelah 1054 tahun era ortodoks, baru muncul Katolik. Nah, Katolik ini sebenarnya ortodoks. Ada lima Patria pada waktu itu. Satunya memisahkan diri dan membentuk di Roma maka namanya Roma Katolik. Ortodoks itu 'kan Katolik dan Apostolik. Katolik itu artinya universal dan apostolik rasulia. Jadi berarti kita harus mengikuti tata cara kehidupan rohani para rasul ini.
Ada jam-jam ibadatnya?
Nah kalau Islam lima waktu, ortodoks tujuh waktu. Kita solat tujuh waktu: Pukul 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00, dan pukul 24.00. Nah kalau Islam wajib menjalankan ibadah lima waktu. Ortodoks nggak! Kalau mampunya kita dua kali yang usahakan jangan absen. Kalau bisa lebih, lebih baik lagi apalagi kalau bisa tujuh kali. Yang ketujuh itu modelnya seperti sembahyang tahajud. Kalau ibadat yang pukul 24.00 biasanya kita mulai pukul 23.00. Doa ini biasanya disebut "Doa Puja Yesus". Kita juga pakai tasbih. Untuk setiap butir kita ucapkan "Tuhan Yesus Kristus Anak Allah, kasihanilah hambaMu orang berdosa ini." Ini kita lakukan dengan iman sebanyak 107 kali. Di dalam hadirat Allah itu kita betul-betul merasakan keheningan dan apa saja seperti keinginan, cita-cita atau apa saja bisa kita sampaikan kepada Tuhan. Biasanya ini kita lakukan 1.5 jam tapi nggak terasa. Kalau saya lihat, apa yang dilakukan oleh Ortodoks kemudian diteruskan oleh Islam. Bukan orang Kristen yang meniru-niru Islam, karena kita sudah 2000 tahun, sedangkan Islam baru 1400 tahun.
Bagaimana model kepemimpinan di Gereja Ortodoks?
Yang paling tinggi Patriach, sejajar dengan Paus. Di bawah Patriach ada episkope (sejajar dengan uskup) sesudah itu ada presbiter (romo-romo yang di gereja-gereja). Banyak sekali yurisdiksi gereja Ortodoks di dunia ini: ada yurisdiksi Yunani, Rusia, Mesir, Etiopia dan banyak lagi. Masing-masing paroki hirarkinya kepada episkope-nya. Kalau seperti Yunani, episkope-nya sekarang ini adanya di Hongkong. Hongkong tunduknya kepada Konstantinopel dari Turki. Jadi pusat kepatriaannya di Turki. Kalau Rusia adanya di Moskow. Kalau Syria, adanya di Antiokia. Kalau di Indonesia ada tiga, yakni Yunani, Rusia dan Syria. Dan pengurus pusat Gereja Ortodoks Indonesia (GOI) bertindak sebagai payung. Artinya, pemerintah memberikan ijin kepada lembaga gereja. Dan GOI sudah masuk dalam lembaga gereja aras nasional dan kita sejajar dengan PGI, PII, Adven, KWI dll. Jadi pengurus pusat GOI ini mengkoordinir seluruh gereja ortodoks di dunia yang beroperasi di Indonesia. Jadi GOI nggak punya atasan di dunia. Kita mempunyai hirarki masing-masing di parokia dan parokia kita tentu ada episkope-nya. Yang menangani parokia itu disebut presbiter.
Apakah seorang presbiter juga mengucapkan kaul-kaul tertentu seperti ketaatan pada pimpinan, kemiskinan dan tidak kawin?
Kalau di ortodoks, sebelum seseorang diteguhkan sebagai presbiter dipersilahkan menikah. Tapi kalau dia tidak menikah pada waktu dia ditahbiskan, maka sampai mati dia nggak akan kawin. Itu sudah merupakan panggilannya seperti Romo Daniel, dia tidak menikah. Makanya dia diangkat sebagai presbiter dan archimandrit atau senior dari para presbiter. Dia mempunyai kesempatan menjadi episkope. Episkope mempunyai kesempatan menjadi patriacht karena episkope itu sama saja seperti kardinal. Kalau presbiter menikah, sesudah itu istrinya meninggal maka nggak boleh kawin lagi.
Gereja Ortodoks 'kan sangat kental tradisi Timur Tengahnya. Lalu bagaimana keadaan gereja di sana?
Di Irak belum pernah ada cerita Islam dan Kristen berkelahi. Tarieq Azis 'kan seorang Kristen Ortodoks. Dan di Irak itu banyak sekali gereja. Ada satu kota (Taralag) di sana itu 95% penduduknya Kristen. Di situ ibu-ibunya pakai jilbab tapi juga pakai salib. Kalau masalah pakai kerudung atau pakai jilbab, memang semua orang ortodoks harus begitu. Di gereja kita juga begitu. Kalau mau menghadap Tuhan, wanita harus pakai kerudung dan pakai baju sampai ke mata kaki. Soalnya sikap doa kita membungkuk dan sujud. Di Irak itu nggak bisa dibedakan mana yang Islam dan yang Kristen. Semua pakai jilbab dan kerudung. Yang namanya istri pendeta atau istri presbiter ya pakai cadar. Bahasanya sama, budayanya sama. Di sana KTP-nya nggak dicantumkan agama mereka. Semua disebut muslim. Saya berani mengatakan diri muslim sebab muslim itu bahasa Arab, artinya orang taat, patuh kepada kehendak Allah. Jadi semua orang Kristen yang patuh kepada Allah adalah muslim. Kita ini bukan Islam tapi muslim karena kita taat dan percaya pada Tuhan. Ini sama pula ketika orang mengucapkan assalamualaikum warahmatulahi wabarukatu. Arti kata-kata ini sesungguhnya sering kali kita ucapkan, yakni kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai Anda. Apakah ini salah? Ini faktor bahasa saja.
E. Dapa Loka
Biodata:
Prof. Dr. Karel S. Waas, lahir di Magelang, 20 April 1939. Menikah dengan Jeane Olga Waas Maengkom dan dikaruniai tiga orang anak, yakni Jonathan (39), Mario (37) dan Maria (30). Dia menyelesaikan pendidikan bidang Administrasi Niaga Negeri Jakarta AANN-BBA Accountancy. Studi doktoralnya ia selesaikan di Eropean University, Antwerpen, Belgia. Selain itu ia pernah mengikuti kursus Manejemen Perhotelan dan Industri Pariwisata di Cornell University dan Universiy of Hawai. Selain menjadi Ketua I Gereja Ortodoks Indonesia, dia juga menjabat sebagai direktur utama PT Multicater. Ia juga pernah menduduki berbagai jabatan penting seperti Ketua Yayasan KADIN Pusat (1986-1995), ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (1978-1985) dan pembina Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI dan POLRI (FKPPI). Saat ini ia adalah salah satu ketua dalam ketua Komite Musyawarah Umat Kristiani Indonesia (KMUKI)
Memang sejak kecil saya sangat dekat dengan pelayanan gereja. Bapak saya memang seorang tentara tapi di samping berperang dia juga penginjil. Dia salah satu pendiri kodam Bukit Barisan bersama-sama dengan Pak Djamin Ginting. Pak Djamin komandan resimen sedangkan ayah saya komandan markas pertempurannya. Jadi setiap istirahat dia panggil anak buahnya dan buka Alkitab untuk mengajari mereka. Kebetulan orang-orang Karo saat itu belum punya agama. Setelah masuk ke Medan tahun 1950, setahun kemudian 500 orang dibaptis di sana. Ini hasil penginjilannya pada saat-saat perang. Nah dari sini rupanya secara tidak langsung semangat ayah itu meresapi saya. Ayah begitu tekun ibadahnya dan saya sangat terkesan. Jadi boleh dikatakan sudah ada dasar dari orang tua. Sehingga boleh dikatakan kehidupan rohani sudah sangat melekat. Tetapi dalam hidup rohani ini kita jangan sekali-kali mencuri kemuliaan Allah. Seringkali orang kalau sudah dekat Tuhan lalu merasa yang paling hebat. Apalagi kalau dia sudah pintar berkotbah atau isi Alkitab sudah di luar kepala. Berdoa bisa dengan suara menggelegar dan seterusnya. Saya tidak begitu cocok dengan cara seperti itu.
Memang di Ortodoks bagaimana cara berdoanya?
Ortodoks itu lain. Saya ikut ortodoks sejak 8 tahun lalu. Pertama saya pikir ortodoks itu agama baru. Saya mendengar pada waktu itu di Sahid Hotel dalam acara yang diadakan oleh Jusuf Roni. Dia mengundang Romo Daniel Bambang. Di situ saya melihat sesuatu yang lain. Saya orangnya yang kritis sekali dan tidak cepat percaya. Apalagi kalau pakai kata muluk-muluk atau iming-iming. Tapi dari pelajaran yang diberikan oleh Romo Daniel saya tertarik dan lalu minta dia mengadakan semacam katekisasi. Setelah satu tahun katekisasi saya merasa mendapatkan pemahaman baru. Di sini saya merasa banyak pertanyaan dalam diri saya terjawab, termasuk soal tritunggal, Allah, Tuhan. Dulunya jawaban-jawaban yang saya dapatkan nggak pernah pas. Jadi Tritunggal ortodoks itu begini: Allah itu esa dan di dalam diri Allah yang esa itu ada esensi dan zatnya ilahi. Jadi kalau Allah mau menciptakan sesuatu dia memakai Firman. Dan karya-karya-Nya berdasarkan roh-Nya. Berarti dalam diri Allah itu ada roh dan ada Firman. Jadi Allah, Firman dan Roh adalah satu. Kelihatannya 'kan ada tiga. Tapi sebenarnya itu satu. Nah, firman-Nya jadi manusia namanya Yesus Kristus. Kehadiran Yesus Kristus sama saja dengan kehadiran Allah.
Lantas, hal apa yang paling membedakan antara Gereja Ortodoks dan gereja-gereja yang lain ?
Yang mendirikan gereja ortodoks adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus meneruskan kepada para murid-Nya. Dan murid-murid ini mengajarkan lagi kepada murid-murid yang lain dan berkesinambungan terus. Orang-orang ortodoks di dunia ini sekitar 450 juta orang. Liturginya di mana-mana sama. Sedangkan kalau mau dilihat urut-urutannya, setelah 1054 tahun era ortodoks, baru muncul Katolik. Nah, Katolik ini sebenarnya ortodoks. Ada lima Patria pada waktu itu. Satunya memisahkan diri dan membentuk di Roma maka namanya Roma Katolik. Ortodoks itu 'kan Katolik dan Apostolik. Katolik itu artinya universal dan apostolik rasulia. Jadi berarti kita harus mengikuti tata cara kehidupan rohani para rasul ini.
Ada jam-jam ibadatnya?
Nah kalau Islam lima waktu, ortodoks tujuh waktu. Kita solat tujuh waktu: Pukul 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00, dan pukul 24.00. Nah kalau Islam wajib menjalankan ibadah lima waktu. Ortodoks nggak! Kalau mampunya kita dua kali yang usahakan jangan absen. Kalau bisa lebih, lebih baik lagi apalagi kalau bisa tujuh kali. Yang ketujuh itu modelnya seperti sembahyang tahajud. Kalau ibadat yang pukul 24.00 biasanya kita mulai pukul 23.00. Doa ini biasanya disebut "Doa Puja Yesus". Kita juga pakai tasbih. Untuk setiap butir kita ucapkan "Tuhan Yesus Kristus Anak Allah, kasihanilah hambaMu orang berdosa ini." Ini kita lakukan dengan iman sebanyak 107 kali. Di dalam hadirat Allah itu kita betul-betul merasakan keheningan dan apa saja seperti keinginan, cita-cita atau apa saja bisa kita sampaikan kepada Tuhan. Biasanya ini kita lakukan 1.5 jam tapi nggak terasa. Kalau saya lihat, apa yang dilakukan oleh Ortodoks kemudian diteruskan oleh Islam. Bukan orang Kristen yang meniru-niru Islam, karena kita sudah 2000 tahun, sedangkan Islam baru 1400 tahun.
Bagaimana model kepemimpinan di Gereja Ortodoks?
Yang paling tinggi Patriach, sejajar dengan Paus. Di bawah Patriach ada episkope (sejajar dengan uskup) sesudah itu ada presbiter (romo-romo yang di gereja-gereja). Banyak sekali yurisdiksi gereja Ortodoks di dunia ini: ada yurisdiksi Yunani, Rusia, Mesir, Etiopia dan banyak lagi. Masing-masing paroki hirarkinya kepada episkope-nya. Kalau seperti Yunani, episkope-nya sekarang ini adanya di Hongkong. Hongkong tunduknya kepada Konstantinopel dari Turki. Jadi pusat kepatriaannya di Turki. Kalau Rusia adanya di Moskow. Kalau Syria, adanya di Antiokia. Kalau di Indonesia ada tiga, yakni Yunani, Rusia dan Syria. Dan pengurus pusat Gereja Ortodoks Indonesia (GOI) bertindak sebagai payung. Artinya, pemerintah memberikan ijin kepada lembaga gereja. Dan GOI sudah masuk dalam lembaga gereja aras nasional dan kita sejajar dengan PGI, PII, Adven, KWI dll. Jadi pengurus pusat GOI ini mengkoordinir seluruh gereja ortodoks di dunia yang beroperasi di Indonesia. Jadi GOI nggak punya atasan di dunia. Kita mempunyai hirarki masing-masing di parokia dan parokia kita tentu ada episkope-nya. Yang menangani parokia itu disebut presbiter.
Apakah seorang presbiter juga mengucapkan kaul-kaul tertentu seperti ketaatan pada pimpinan, kemiskinan dan tidak kawin?
Kalau di ortodoks, sebelum seseorang diteguhkan sebagai presbiter dipersilahkan menikah. Tapi kalau dia tidak menikah pada waktu dia ditahbiskan, maka sampai mati dia nggak akan kawin. Itu sudah merupakan panggilannya seperti Romo Daniel, dia tidak menikah. Makanya dia diangkat sebagai presbiter dan archimandrit atau senior dari para presbiter. Dia mempunyai kesempatan menjadi episkope. Episkope mempunyai kesempatan menjadi patriacht karena episkope itu sama saja seperti kardinal. Kalau presbiter menikah, sesudah itu istrinya meninggal maka nggak boleh kawin lagi.
Gereja Ortodoks 'kan sangat kental tradisi Timur Tengahnya. Lalu bagaimana keadaan gereja di sana?
Di Irak belum pernah ada cerita Islam dan Kristen berkelahi. Tarieq Azis 'kan seorang Kristen Ortodoks. Dan di Irak itu banyak sekali gereja. Ada satu kota (Taralag) di sana itu 95% penduduknya Kristen. Di situ ibu-ibunya pakai jilbab tapi juga pakai salib. Kalau masalah pakai kerudung atau pakai jilbab, memang semua orang ortodoks harus begitu. Di gereja kita juga begitu. Kalau mau menghadap Tuhan, wanita harus pakai kerudung dan pakai baju sampai ke mata kaki. Soalnya sikap doa kita membungkuk dan sujud. Di Irak itu nggak bisa dibedakan mana yang Islam dan yang Kristen. Semua pakai jilbab dan kerudung. Yang namanya istri pendeta atau istri presbiter ya pakai cadar. Bahasanya sama, budayanya sama. Di sana KTP-nya nggak dicantumkan agama mereka. Semua disebut muslim. Saya berani mengatakan diri muslim sebab muslim itu bahasa Arab, artinya orang taat, patuh kepada kehendak Allah. Jadi semua orang Kristen yang patuh kepada Allah adalah muslim. Kita ini bukan Islam tapi muslim karena kita taat dan percaya pada Tuhan. Ini sama pula ketika orang mengucapkan assalamualaikum warahmatulahi wabarukatu. Arti kata-kata ini sesungguhnya sering kali kita ucapkan, yakni kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai Anda. Apakah ini salah? Ini faktor bahasa saja.
E. Dapa Loka
Biodata:
Prof. Dr. Karel S. Waas, lahir di Magelang, 20 April 1939. Menikah dengan Jeane Olga Waas Maengkom dan dikaruniai tiga orang anak, yakni Jonathan (39), Mario (37) dan Maria (30). Dia menyelesaikan pendidikan bidang Administrasi Niaga Negeri Jakarta AANN-BBA Accountancy. Studi doktoralnya ia selesaikan di Eropean University, Antwerpen, Belgia. Selain itu ia pernah mengikuti kursus Manejemen Perhotelan dan Industri Pariwisata di Cornell University dan Universiy of Hawai. Selain menjadi Ketua I Gereja Ortodoks Indonesia, dia juga menjabat sebagai direktur utama PT Multicater. Ia juga pernah menduduki berbagai jabatan penting seperti Ketua Yayasan KADIN Pusat (1986-1995), ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (1978-1985) dan pembina Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI dan POLRI (FKPPI). Saat ini ia adalah salah satu ketua dalam ketua Komite Musyawarah Umat Kristiani Indonesia (KMUKI)
Subscribe to:
Posts (Atom)